Sebuah Jurnal

Travelogue Guesthouse Bukit Bintang – Kuala Lumpur



Baru sadar kalau ada hostel di area super strategis di Bukit Bintang dan terjangkau pula harganya. Saya direkomendasikan oleh teman kantor yang saat itu barengan nonton konser Yiruma di Genting. Karena mereka naik pesawat satu malam sebelumnya, mereka memutuskan untuk menginap di Travelogue ini dan saya akhirnya berkesempatan mencoba juga pada akhir Juni lalu.

Travelogue terletak di kawasan segitiga emasnya Kuala Lumpur, yaitu Bukit Bintang. Di sebelah Starbucks Bukit Bintang, sebuah tangga kecil menyempil. Saya sempat ragu saat melihat foto- foto di internet dan OTA. Di kawasan seperti ini dan dengan harga yang sangat ramah di kantong, mana mungkin bisa dapat hostel sebersih itu, pikir saya. Ternyata hostel ini benar- benar seperti yang tampak pada foto- foto yang diunggah.

Another Transit : Merchant’s Lane Kuala Lumpur


Menunggu bisa jadi mengasyikkan kalau ada kegiatan yang bisa dilakukan. Entah itu menulis, nonton, ataupun ngopi. Sembari menunggu anggota keluarga saya yang lain dari Singapura (berhubung tiket pesawat saat itu sedang mahal- mahalnya, saya memilih naik bus karena beda penerbangan sejak awal trip), saya berencana ngopi. Jemari ini pun dengan lincah mengetikkan ‘best coffee shop in Kuala Lumpur’. Ada banyak pilihan di area Bangsar, yang mana nggak terlalu jauh dari KL Sentral. Namun Merchant’s Lane di area pecinan ini tampaknya lebih menggoda.

Saya menumpang Rapid dan turun di Pasar Seni. Sekadar informasi, kini pembayaran di Rapid menggunakan kartu Touch’n Go. Saya ditolak naik ke dalam bus karena masih pakai uang tunai. Segeralah saya membeli kartunya di Nu Sentral. Member card Watson juga bisa digunakan sebagai alat pembayaran karena ada Touch’n Go-nya. Tinggal top up saja.

Red Planet Hotel Pattaya

Red Planet (sebelumnya Tune Hotel)

Kami memesan kamar hotel ini pada menit terakhir. Saat itu baru selesai nonton pementasan Alcazar dan sambil menunggu teman- teman yang sedang ke toilet, saya melihat- lihat sekeliling dan gedung Red Planet terpampang di hadapan saya. Lalu terpikir oleh saya untuk mengungkapkan perasaan tak enak saya saat berada di hotel sebelumnya kepada teman- teman saya. Dan saya tidak sendirian. Mereka juga merasakan hal yang sama. Maka saya pun membuka aplikasi Traveloka dan dapatnya di harga 340ribuan per kamar.

[Warna] Songthaew- Songthaew di Pattaya


Songthaew merupakan transportasi yang ada di Pattaya. Modifikasi dari mobil pick up.

Mungkin akan lebih tepat judulnya kalau Abang- Abang Songthaew di Pattaya ataupun Driver Songthaew di Pattaya. Tapi biarlah saja tetap begitu judulnya. Biarlah cerita- cerita tentang songthaew ini menjadi salah satu kenangan yang tetap memotivasi kita untuk yakin bahwa masih ada kebaikan di belahan bumi manapun itu.

Sebelum berangkat ke Bangkok, saya mengatakan kepada teman- teman saya bahwa di Pattaya ada moda transportasi berupa songthaew yang lebih murah dari Grab. Hanya saja untuk perkiraan budget, kami hitung dengan aplikasi Grab secara kami tidak menyewa mobil karena beberapa jasa penyewaan mobil dipaket dari Bangkok, tidak ketemu yang hanya di Pattaya saja. Pahit- pahit ya karena Grab di sini memang mahal dan rutenya jauh- jauh, ucap saya waktu itu.

Ternyata kami cukup beruntung karena selama perjalanan di Pattaya hanya sekali kami memesan Grab. Selebihnya naik songthaew. Dari sinilah cerita- cerita songthaew bergulir.

Ganti Hotel Setelah Check In? – Sebuah Cerita dari Pattaya


Nggak selamanya apa yang dilihat di foto akan sama seperti kenyataan. Inilah yang saya dan teman- teman alami saat tiba di hotel yang kami sewa kamarnya di Pattaya: Yes O’Tel. Karena anggapan kami toh hanya satu malam dan dari foto tampaknya juga oke oke saja. Satu dua tamu memberikan ulasan yang kurang, masih oke juga.

Dan benar saja. Sesampainya di hotel, kondisi hotel tidak sesuai dengan apa yang terlihat di foto. Lobi tampak suram tanpa ada tamu yang lewat, hanya ada seorang staf yang acuh tak acuh di balik konternya. Staf di reception juga tidak bisa berbahasa Inggris dan saat melihat bahwa kami bertiga, ia meminta tambahan extra bed charge sebanyak THB500 yang akan dibayar nanti pas check out.

[Transportasi] Don Mueang – Chatuchak – Pattaya Naik Bus



Sawadee ka! Berkesempatan juga mengunjungi ibukota negeri gajah putih ini setelah beberapa bulan lalu mengunjungi Songkhla. Trip kali ini cukup singkat namun memiliki cerita sendiri. Ke Pattaya juga bisa dibilang 50:50, antara jadi atau engga dan terakhir jadi juga. He he.

Saya duluan mendarat di bandara Don Mueang karena naik penerbangan pertama dari Kuala Lumpur sementara teman- teman saya baru akan tiba beberapa jam lagi dengan penerbangan dari Medan. Setelah titip ransel, keliling bandara dulu sambil cari di mana letak bus stop menuju Chatuchak.

Jadwal keberangkatan bus A1-A2

Tune Talk The Red Pack Traveller SIM Card

Tune Store

Kebayang nggak sih kalau traveling ke beberapa negara trus harus ganti kartu SIM-nya? Ribet ih. Sebelum berangkat ke Kuala Lumpur, saya nemu kartu untuk roaming 16 negara yang disediakan oleh Tune Talk. Belinya dari aplikasi Klook – super membantu untuk teman- teman yang hendak traveling dan butuh ini itu, seperti kartu SIM ini, misalnya.

[KLIA2] Transit Anti Pegal : Capsule Transit @KLIA2

CapsuleTransit @ KLIA2 Level 1


Kalau biasanya ngemper sambil nunggu penerbangan selanjutnya tapi punggung atau leher jadi pegal, kali ini saya mencoba memberikan tubuh saya sedikit perhatian dengan menginap di kapsul. Karena penerbangan ke Bangkok itu pukul 6.35 dari Kuala Lumpur dan saya naik pesawat pukul 15.15 dari Medan ke Kuala Lumpur (karena awalnya nggak berencana ke Bangkok) sehari sebelumnya, jadi daripada saya nginap di KL dan harus subuh- subuh ke bandara, saya memilih untuk menginap di bandara saja.

Island Hopping di Langkawi

  

Punya waktu terbatas di Langkawi? Island hopping bisa jadi pilihan. Berdurasi empat jam, paket ini membawa wisatawan berkeliling ke tiga pulau yang ada di Langkawi, yaitu Pulau Dayang Bunting, Pulau Singa Besar, dan Pulau Beras Basah. Paket ini saya dan Mama pesan saat main ke Cenang sehabis dari Langkawi Skybridge. Cocok untuk kami karena penerbangan kami sore hari. Ambil yang jam 9 pagi dan trip selesai pukul 1 siang.

Karena kami memesan paket island hopping, transportasi tidak disediakan. Jadi setelah kami check out di pagi harinya, kami langsung berangkat ke HBS Evergreen untuk menitipkan bagasi dan ikut island hopping ini. Aman kok teman- teman :)

Langkawi SkyBridge – The Longest Free Span and Curved Bridge in The World

Skybridge dan SkyDome yang terlihat kecil
Serunya naik SkyCab: bisa lihat view laut yang biru~~

Salah satu tempat yang wajib dikunjungi kalau main ke Langkawi adalah SkyBridge-nya yang tersohor itu.  Cuacanya cerah sekali sehingga kami bisa menikmati keindahan permata Kedah ini dengan sempurna. Suasana cukup ramai namun tidak mengantre panjang. Satu- satunya antrean yang panjang hanyalah antrean SkyGlide karena hanya ada satu unit.

Untuk sampai ke Skybridge, teman- teman wajib menumpang SkyCab. Harga tiketnya RM55.00 per orang, sudah termasuk SkyCab PP, SkyDome, SkyRex (yang kami lewatkan karena kurang tertarik dengan dinosaurus), dan 3D Art Museum Langkawi.

Setiap SkyCab berhenti, teman-  teman bisa turun dulu untuk menikmati pemandangan alam di SkyDome. Setelah puas, bisa menunggu SkyCab selanjutnya.

Sepotong Senja di Kuah

Maskot Langkawi

Saat mengetahui bahwa cuti di-approved, saya mulai googling tempat mana lagi yang bisa dikunjungi kalau sedang berada di Penang. Langkawi menjadi pilihan. Saat itu pas lagi ada promo dari si merah, per orangnya hanya RM19.00 sekali jalan. Tanya ke Mama dan beliau oke- oke saja mau jalan ke Penang. Cus..! Klik klik bayar…

Hari yang ditunggu- tunggu pun tiba. Kami naik pesawat ke Langkawi. Durasinya hanya 35 menit karena Langkawi dekat sekali dengan Penang. Alternatif utama adalah dengan naik feri, namun lebih mahal. Waktu saya cek, sekitaran RM75.00 per orang. Jadinya kami naik pesawat saja karena murah banyak.

Kami naik pesawat sore dan setibanya di rumah sewaan (awalnya kami mengira hanya disewakan kamarnya saja, ternyata satu rumah itu hanya saya dan Mama penghuninya), kami meletakkan koper, mandi, lalu memesan Grab menuju Dataran Lang.

Cangkir- Cangkir Flat White di Pilastro Sudirman



Kopi kini tidak hanya sekadar dinikmati para pencintanya namun juga telah bertransformasi menjadi bagian dari gaya hidup. Selalu ada kafein di siang hari ataupun di sela- sela pekerjaan yang menumpuk di kantor. Atau nongkrong di kedai kopi yang kini semakin modern. Aktivitas di balik mesin espresso semakin padat.

Saya adalah tipe yang suka duduk di kedai kopi. Entah itu ngopi ataupun menyulam cerita dengan kibor dan tab mini saya. Awal kenalan dengan kedai kopi ini saat dilanda kegalauan proposal tesis yang tengah direvisi. Waktu itu teman saya mengajak berdiskusi di Pilastro Sudirman.

Transportasi Selama di Penang

Sebagai salah satu kota dengan situs warisan budaya yang kental, Penang sudah dibekali dengan sistem transportasi yang memadai. Untuk pergi ke tempat- tempat yang baik itu touristy ataupun keliling kota, tersedia transportasi umum berupa bus nyaman dan ber-AC.

Untuk busnya sendiri ada dua tipe, satu Rapid (berbayar) dan satu lagi CAT (tidak berbayar alias free). Haltenya sendiri berada di satu area walau berbeda blok. Kalau saya sendiri lebih sering naik Rapid karena tempat tujuannya itu dilalui oleh Rapid.

Kadang kala, saat mengejar waktu, kami pesan Grab. Atau saat sedang ada promo untuk jarak dekat dan lebih hemat, kami juga pesan Grab. Jadi selama di Penang, fleksibel saja ya teman- teman.

Postingan ini nggak berisi tentang semua rute Rapid se-Penang ataupun kode promo Grab. He he. Gelembung hanya mau share yang kami coba waktu itu.

Hotel Kimberley Georgetown



Sampai juga di coba- coba hotel di Penang yang terakhir. Kimberley Hotel merupakan hotel ketiga yang kami coba sebelum balik ke Medan. Lokasinya ada di Jalan Sungai Ujong, berdekatan dengan Apollo Inn. Sengaja sebelum pulang pilih hotel di area Komtar biar nggak rempong pas mau ke bandara naik Rapid.

Travelodge Hotel Georgetown


Memilih penginapan terkadang menjadi salah satu kegiatan yang memakan waktu. Maunya kamarnya oke, lokasi strategis, banyak direkomendasikan orang, dan kalau bisa jangan kemahalan. Nah ini yang susah dicari. Banyak maunya. Ha ha.

Di Penang sendiri ada beberapa hotel di daeah Macalister yang cukup strategis – jika tujuan ke Penangnya bukan untuk keperluan medis. Salah satu yang kami coba adalah Travelodge Hotel. Bagi teman- teman yang sering ke Penang namun kurang familier, Travelodge ini sebelumnya bernama Glow Hotel.

The Habitat Penang Hill


Penang Hill selalu masuk dalam daftar yang harus dikunjungi bagi sebagian turis. Menikmati keindahan kota Penang dari ketinggian, menaiki Kereta Bukit Bendera yang selalu di-upgrade sesuai kebutuhan dan perkembangan zaman ini, menjadi daya tarik tersendiri. Namun kami punya rencana lain setelah tiba di Bukit Bendera: The Habitat.

Area masuk
The Habitat termasuk spot baru yang ada di Bukit Bendera. Tiket masuk bisa dibeli langsung ataupun melalui aplikasi. Harga tiketnya sendiri ada dua jenis, tergantung jam masuknya. Untuk jam masuk sebelum jam enam sore (Standard Walk), pengunjung dikenakan tari RM50. Waktu itu kami beli dari Traveloka dapetnya di 120ribu-an. Jauh lebih murah dan tiketnya bisa digunakan langsung. FYI, setiap beli tiket dari aplikasi, pastikan untuk selalu cek ketentuan penggunaan tiket ya, karena setiap tiket yang berbeda tempatnya memiliki ketentuan yang berbeda. Ada yang tiketnya harus dicetak ataupun harus menunggu 1x24jam dulu baru bisa dipakai.

Apollo Inn - Georgetown, Penang


Apollo Inn merupakan hotel pertama dari tiga hotel yang akan kami coba. Jadi saya review Apollo dulu ya. Berlokasi di Jalan Sungai Ujong, hotel ini dekat dengan Komtar. Jalan kaki tiga menit sampai. Lokasinya juga tidak sulit ditemukan karena satu jalan dengan Kimberley Hotel yang bisa terlihat dari pintu masuk samping Prangin Mall.

Sudah sore sewaktu kami tiba di Apollo. Resepsionis yang ramah membantu kami menyelesaikan proses check in dengan cepat dan kami pun bisa segera masuk ke kamar. Ada lift jadi tidak perlu khawatir. Kami memesan kamar untuk tiga orang. Dapatnya di harga 400ribu-an waktu pesan. Tidak perlu khawatir jika kamu solo, ada dorm dengan harga mulai dari 150ribu-an.

Diamond Plaza Hotel Hatyai


Salah satu alasan memilih menginap di hotel ini adalah karena lokasinya yang strategis (gampang cari makan, van juga bisa drop off dan pick up di sini) selain daripada saya ngikut rekomendasi saja. Dengan budget di bawah lima ratus ribu per malam, sudah dapat kamar nyaman dan bersih. Tapi kalau mau cari yang instagrammable, kurang cocok ya di sini.

Kamarnya tidak bisa dibilang nggak update walaupun tidak bisa dibilang jadul. Untuk perlengkapan mandinya ada sabun batangan dan shampoo bungkusan. Tidak ada shower cap dan dental kit. Sandal hotel tidak tersedia tetapi ada laundry bag dan sanitary bag.

[3/3] Sehari di Songkhla : Bisa lho ke Banyak Tempat

7. Samila Beach
Ngantre yang mau foto bareng mermaid di Samila. Ikonnya nih...
Ini dia pantai paling hits se-Hat Yai. Dengan patung putri duyung yang ikonik, tempat ini selalu ramai pengunjung. Kami tidak lama di sini, hanya setengah jam-an. Area pantainya bersih dan banyak orang berjualan di sini, baik makanan ataupun suvenir.

setiap spot cocok dijadikan area foto.
Saya sendiri sangat menyukai gantungan kerang yang  dijual dan membeli untuk digantung di rumah. Harganya mulai dari THB20 hingga THB350. So cute!

[2/3] Sehari di Songkhla : Bisa lho ke Banyak Tempat

4. The Great Serpent 'Nag'

The Great Serpent 'Nag'
Jika Singapura punya Merlion, maka Songkhla punya Nag. Nag merupakan makhluk laut berwujud naga yang sangat dihormati oleh warga Songkhla. Air yang disemburkan oleh Nag dipercaya membawa keberuntungan dan kemakmuran, menyucikan segala cela yang berdampak pada keseimbangan hidup manusia. 


Naik feri dulu
Untuk sampai ke tempat ini bisa full lewat jalan darat ataupun naik feri. Uncle membawa kami naik feri, walau hanya sebentar saja karena tak jauh. Agar kami bisa mencoba hal baru dan menghirup udara segar, begitu kata uncle. Kami juga bertemu dengan gadis kecil penjual mangga muda yang gigih.

[1/3] Sehari di Songkhla : Bisa lho ke Banyak Tempat

Kami dibawa berkeliling oleh P Boon (dilafalkan Pi Bun). Karena di itinerary saya tidak begitu banyak tempat, uncle merekomendasikan daftar tempat yang bisa kami pilih. Mulai dari sarapan hingga tempat pemberhentian kami yang terakhir, total ada sepuluh tempat yang kami kunjungi pada hari itu. Wow! Ke mana saja?

  1. Dimsum in Garden
           


Dari namanya, tempat ini belum pernah saya dengar sebelumnya, baik dari orangtua saya ataupun rekomendasi beberapa traveller lainnya. Dan memang yang makan di sini warga lokal semua dan ramai banget. Dimsumnya bervariasi, tinggal pilih mau yang mana. Tersedia juga menu berat, hanya saja kami memilih menu dimsum semua. Sambil makan, uncle mulai bertanya pada kami rencana perjalanan kami pada hari itu, diselingi dengan cerita pengalaman  uncle dan sisipan pelajaran kosakata dalam bahasa Thai. Seru!



Aktivitas sarapan ini opsional ya, teman- teman. Sehari sebelum menjemput kami, uncle sudah bertanya apakah kami mau dijemput untuk sekalian sarapan atau mau setelah kami sarapan.

Super Recommended Tuktuk Rental: P Boon – Service from Heart

Jalan ke satu tempat yang berbeda bahasa dan tidak ada transportasi umumnya menjadi salah satu kendala yang sering dihadapi oleh para traveller. Nggak ketemu moda transportasi yang pas, akhirnya pos pengeluaran membengkak di bagian transportasi.

Di Hat Yai sendiri belum terlihat adanya bus umum. Baik warga ataupun turis masih banyak menggunakan jasa Tuktuk sebagai transportasi mereka sehari- hari. Dengar dari pengalaman, katanya bisa dapat harga mahal kalau nggak jago nawar. Lalu mulailah saya mencari tahu dan ketemu beberapa postingan yang merekomendasi P Boon.

[Transportasi] Dari Penang ke Hat Yai


Hat Yai merupakan kota di Thailand Selatan di provinsi Songkhla. Dari Penang ke Hat Yai memerlukan waktu kurang lebih empat jam menggunakan van.  Pada liburan kemarin, saya, Mama, dan adik saya berkesempatan untuk jalan jalan ke Hat Yai. Dengan waktu tiba yang sudah menunjukkan hampir pukul satu siang di Penang, kami langsung memesan Grab menuju Prangin Mall karena bus yang ngetem sedang tidak beroperasi.

Mengapa Prangin Mall? Karena di deretan pintu masuk sampingnya berjejer agen perjalanan yang menjual tiket bus, van, dan feri. Langganan keluarga saya di A.G. Express. Setelah tiba di Penang, kami menelepon ke A.G. untuk memesan tiket van ke Hat Yai. Sayangnya tidak bisa. Auntie bilang harus on the spot baru sah. Jadi tidak bisa pesan via telepon. Datang duluan, dapat tiket duluan.

kantor A.G. Express di Prangin Mall
Sesampainya di A.G., kami langsung beli tiga tiket, pulang pergi. Penang ke Hat Yai harganya RM35,00 dan dari Hat Yai ke Penang harganya RM40,00 total yang kami bayar RM75,00 per orang. Oh ya, siapkan juga uang pecahan senilai THB20 (atau RM3,00) per orang yang akan ditagih oleh driver.

Joglosemar : Dari Kota Gudeg ke Kota Lumpia



Mari berpindah ke kota lain di Jawa Tengah. Saat memikirkan detinasi liburan Natal yang hendak dituju, Semarang masuk ke dalam daftar. Entah mengapa, rasanya ingin saja. Maka, dari Jogja, kami memutuskan untuk bertolak ke Semarang. Dari hasil pencarian, Joglosemar paling direkomendasikan. Plus armadanya yang banyak dan rutenya yang banyak juga.

Aplikasi Joglosemar yang bisa teman- teman download
Beberapa kota keberangkatan Joglosemar

TransJogja ke Prambanan


Setelah dikecewakan oleh salah satu jasa penyewaan mobil di Jogja, janjinya bakal diantarkan ke bandara mobilnya. Saya konfirmasi seminggu sebelum keberangkatan, karena dari awal sudah was- was, kenapa pas saya mau DP, admin bilang tidak apa- apa, H-4 saja. Dan ternyata benarlah, saya WA dan telepon tetapi masih tidak mendapat respon. Pada akhirnya, pihak rental mobil itu benar- benar mengecewakan kami. Ya sudahlah.

Stephouse Jogja : BnB Rasa Rumah Sendiri

Hola! Selamat Tahun Baru bagi kita semua. Senang sekali 2018 lalu menjadi tahun yang menyenangkan bagi gelembungcerita. Banyak tempat baru, cerita baru, dan teman baru. Semoga 2019 ini gelembungcerita bisa lebih baik lagi. Amin. Liburan terakhir di 2018 juga menyisakan ceritanya sendiri. Salah satunya adalah itinerary yang lari kemana- mana. Sedih sebenarna, tapi ya sudahlah. Let's just have fun!

Rencana menghabiskan liburan anti cuti dimulai lagi. Kali ini mainnya ke Semarang. Singgah dulu ke Yogyakarta satu malam karena si kawan mau nonton Raminten  Cabaret Show (terakhir pada ngga jadi semua). Setelah THR cair, di saat orang sibuk belanja, saya sibuk belanja juga, belanja tiket pesawat.

This is Stephouse 
Tiket pesawat aman. Saatnya cari tempat buat nginap. Setelah browsing ke sana kemari, kami memilih menginap di Stephouse. Dilihat dari review dan foto- fotonya sih oke ya. Teman- teman bisa pesan melalui AirBnB ataupun kalau yang tidak punya kartu kredit, bisa juga dengan pesan dilanjutkan dengan pembayaran manual dari luar aplikasi AirBnB.