Sebuah Jurnal

#JadiBisa Tetap Dekat dengan Yang Terkasih dengan Fasilitas Pilih Kursi di Traveloka

Selain bebas macet, traveling dengan menumpang kereta api sangat menyenangkan. Berangkat ke stasiun dan menunggu kereta api sambil menikmati jajanan yang ada di stasiun diiringi suara kereta api yang khas memberikan rasa tersendiri. Para penumpang berlalu lalang menjinjing bawaan mereka. Ada yang pulang kampung, berangkat kerja, ataupun sekadar jalan- jalan seperti saya dan teman- teman.

Saya bersyukur kini traveling tidak lagi seribet dulu. Berbagai informasi mengenai destinasi wisata sangat mudah kita temukan dengan berseluncur di dunia maya. Termasuk juga dalam urusan akomodasi, tinggal pilih, pesan, dan bayar, maka tiket sudah berada dalam genggaman. Bahkan pembayaran untuk pemesanan tiket ataupun hotel tanpa kartu kredit juga sudah bisa. Ini menjadi kemudahan ekstra bagi saya yang tidak memakai kartu kredit.

Hanoi Old Centre Hotel – Hoan Kiem, Hanoi

Setelah dua malam menginap di daerah Old Quarter, kami pindah hotel. Pesannya di daerah Hoan Kiem biar dekat kalau mau jalan kaki ke danau. Pilihan jatuh pada Hanoi Old Centre Hotel. Dan benar, hotel ini memang sangat dekat dengan Hoan Kiem Lake. Kamarnya juga yang paling oke di antara semua hotel yang pernah saya review dalam trip Indocina kali ini.

Reception 


Hanoi Old Centre Hotel terletak di Hang Hanh Street. Lagi- lagi, malam sebelumnya pas nyari makan, ke TKP dulu biar nggak muter- muter sama ransel lagi. Ha ha. Nggak jauh dari Hanoi Buddy. Pagi setelah sarapan dan check out dari Hanoi Buddy, saya dan Papa langsung jalan ke hotel ini.

[1/7] New7Wonders of Nature : Ha Long Bay, Vietnam

HA LONG BAY

Ha Long Bay
Ha Long Bay menjadi magnet bagi para wisatawan yang berkunjung ke Vietnam, khususnya Hanoi. Ha Long Bay terletak di bagian utara Vietnam. Menurut legenda, saat Vietnam diserang, Ibu naga dan putranya diutus turun ke Vietnam untuk melindungi penduduk- penduduk di sana. Naga- naga tersebut melawan penyerang dan membentuk benteng pertahanan dengan mengeluarkan batu zamrud yang kini menjulang kokoh sebagai pulau- pulau batu kapur di Ha Long Bay. Terdapat kurang lebih 1.600 pulau batu kapur di teluk ini.

Kissing Chicken
Warga sangat menghormati dan menghargai naga. Oleh karena itu teluk ini dinamakan Ha Long Bay, yang berarti Teluk Naga. Ha Long Bay masuk ke dalam satu dari tujuh keajaiban dunia kategori alam. Perjalanan dari Hanoi ke Ha Long memakan waktu kurang lebih empat jam berkendara. Saya dan Papa bergabung dalam sebuah kelompok tur. Jangan lewatkan berkunjung ke Ha Long Bay walau hanya untuk tur sehari seperti kami.

Hanoi Buddy Inn & Travel - Old Quarter, Hanoi

Buddy Cafe
Terletak di Hang Bo Street di kawasan Old Quarter, lokasi Hanoi Buddy Inn & Travel cukup strategis. Sesampainya di hotel, staf Hanoi Buddy yang ramah segera memproses check in kamar. Tidak lama karena waktu saya dan Papa tiba juga sudah malam. Selesai proses check in, kami langsung diantarkan ke kamar. 

Jreng….jreeeengg….sama seperti di Marie-Line Hotel di Ho Chi Minh, Hanoi Buddy tidak memiliki lift dan kamar kami berada di lantai tiga. Perjuangan lagi ya. He he.
Kamarnya nyaman (selain noda pada langit- langit) dan kamar mandinya bersih, showernya juga oke. Hairdryer ada. Ruangannya juga lumayan – lebih luas daripada yang sebelumnya kami tempati.

Selain penginapan, Hanoi Buddy juga menyediakan paket tur. Ada ruang makan di bagian belakang lantai dasar dan coffee shop di bagian depan hotel. Saya berencana untuk coba egg coffee yang terkenal itu, tapi hingga check out nggak juga kesampean cobanya *entah ini lupa atau efek mepet trus jadi lupa -_- harap dimaklumi pemirsah*


Hotel Reception

[Curhat Traveller] Hanoi: Awal Perjumpaan

Duduk di dingklik, salah satu yang khas dari Vietnam
Jarak dan waktu tempuh melalui jalur darat yang cukup memakan waktu membuat kami memilih perjalanan udara ke Hanoi. Dan di sinilah kami. Mendarat dengan baik di Noi Bai International Airport. Saat keluar dari arrival hall, kami mencari bus menuju Long Bien, halte bus dekat Old Quarter. Rencana mau naik bus no.86 tapi nggak kelihatan. Kami juga sempat ditawari untuk naik van, per orangnya VND 100.000 langsung diantarkan sampai ke depan hotel.

Terakhir, bus yang mangkal itu bus no.17 dan memang menuju Long Bien sebagai perhentian terakhirnya. Kami pun naik. Harga pastinya lupa berapa (biasa saya foto, tapi mungkin saking semangatnya plus sudah gelap jadi kelupaan). Yang pasti harganya jauh lebih murah ketimbang naik van. Bus terus melaju dan berhenti sebentar- sebentar untuk mengangkut dan menurunkan penumpang. Jalanan gelap yang dilalui juga membuat saya terheran- heran, apakah benar kondisi ibukota memang seperti ini.

Bus 109 to Tan Son Nhat Airport

Berangkat ke bandara kadang memang bikin dilema ya. Mau naik carteran mobil dari hotel, nggak murah walaupun nggak mahal untuk ukuran berdua. Mau naik transportasi umum ya takut ribet. Serba salah memang. Hanya saja kalau nggak berani mencoba, kita nggak bakalan tahu dan akhirnya selalu memilih alternatif yang aman di waktu tapi nggak aman di kantong. Ha ha.

Saya sempat share sedikit mengenai bus dari Pham Ngu Lao ke Tan Son Nhat Airport pada postingan sebelumnya. Kali ini mau share lebih detail. Ke bandara dengan nyaman naik bus No. 109 berwarna kuning yang dioperasikan oleh SATSCO, salah satu perusahaan jasa yang melayani transportasi dari dan ke bandara, penyewaan mobil, jasa pengurusan dokumen terkait penerbangan, dan sebagainya.

VND 20.000/orang
Rental mobil dari SATSCO

Bus 36 ke Saigon Central Post Office dan Sekitarnya

Katanya di Pham Ngu Lao ada terminal bus tapi semalaman jalan kaki nggak kelihatan. Barulah setelah diberitahu oleh staf hotel, ketemu terminalnya. Pagi itu kami ke terminal dulu, untuk cari tahu besoknya naik bus nomor berapa ke bandara. Untuk ke bandara, teman- teman bisa menumpang bus no. 109. Busnya berwarna kuning, free WiFi di dalam bus dan rutenya langsung ke bandara.
Masing- masing bus sudah ada tempat menunggunya. 1 nomor bus 1 peron
Oke, setelah tahu jadwal bus dan nomornya, saatnya jalan- jalan. Ke mana? Ke kantor pos yang legendaris itu dulu. Pas saya bilang post office, kernet busnya sempat bingung pertanda nggak mengerti. Lalu, saya tunjukkan gambar kantor pos barulah dia menyuruh kami naik. Bus nyaman itu bernomor 36 dan harganya hanya VND 6.000 kalau dikurs ke Rupiah sekitaran Rp 3.900,-



Bus tidak turun tepat di depan kantor pos, kami harus berjalan sedikit lagi. Waktu itu, kartu SIM saya sedang bermasalah sehingga tidak bisa internetan. Beruntung di tengah kota, ada Wi-Fi gratis. Keren banget ya, hampir di setiap titik – setidaknya yang menjadi tempat wisata favorit turis – pasti ada Wi-Fi.
After Rain

Ben Thanh Street Food Market – Ho Chi Minh

Jarak dari hotel ke Ben Thanh Market nggak terlalu jauh dengan berjalan kaki, sekitar 12 hingga 15 menit tergantung berani nyeberang jalan atau enggak. Selain jalan kaki, bisa juga naik bus umum. Terminal busnya ada di Pham Ngu Lao. Rata- rata rute melewati Ben Thanh karena ada pemberhentian (terminal) khusus di area Ben Thanh.

Di Ben Thanh Market, teman- teman bisa bebas belanja berbagai macam keperluan sehari- hari dan juga barang yang akan dijadikan sebagai oleh- oleh. Harganya tentu bervariasi. Waktu itu tujuan utama kami adalah Ben Thanh Street Food Market yang direkomendasikan oleh staf hotel, jadilah kami mulai melacak peta. Oh ya, sebelumnya kami sudah beli kartu SIM lokal di warung di salah satu gang Pham Ngu Lao. Harganya VND100.000 untuk internetan 2GB.

Ben Thanh Street Food Market
Namanya juga Ben Thanh Street Food Market, tempatnya nggak jauh- jauh dari pasar. Food market di sini menyediakan beragam kuliner, mulai dari kuliner khas Vietnam sendiri, Thai, Chinese, Western, Korean, hingga Japanese. Dan semuanya menggugah selera.

Marie Line Hotel - Ho Chi Minh City

Sebagai salah satu kota yang dipadati oleh turis, Ho Chi Minh memiliki pesona tersendiri. Pham Ngu Lao merupakan kawasan para backpacker berkumpul. Hotel- hotel bertebaran, baik di tepi jalan besar ataupun gang- gang kecil. Cari makan dan transportasi juga mudah, jadi saya lumayan betah menginap di kawasan ini.
reception

Dari Siem Reap ke Ho Chi Minh

Perjalanan ke Angkor Wat mengakhiri trip di Siem Reap. Malamnya, menumpang sleeper bus (hotel bus) Olympic Express, saya dan Papa melanjutkan rute ke Ho Chi Minh. Bus dijadwalkan berangkat pada pukul 22.30. Tapi kami berencana untuk berangkat ke terminal lebih awal untuk berjaga- jaga.

Ini yang dikasih waktu beli tiket bus terusan Siem Reap- Phnom Penh - Ho Chi Minh
Harganya $25/orang
Petangnya kami berencana untuk jalan kaki lagi di sekitaran hotel, namun hujan turun lumayan lebat dan setelah menunggu cukup lama, hujan masih belum reda. Jadi kami memutuskan untuk makan malam di KFC Sivutha dekat hotel.

Hujan malah turun semakin deras. Memang musimnya hujan. Hiks. Beruntungnya di KFC tersedia Wi-Fi gratis, jadi saya masuk menggunakan password yang tercetak di struk pembelian. Saya mengontak Mr. Safy untuk memintanya jangan datang dulu karena kami belum balik hotel dan hujan sangat lebat. Di luar dugaan, Mr. Safy malah mau langsung menjemput kami di KFC. Saya menolak karena hujan deras sekali. Tapi Mr. Safy tetap meminta saya untuk menunggu barang sepuluh menit dan benar, ia tiba sepuluh menit kemudian.

Tanpa menggunakan jas hujan, ia hanya membawa sebuah payung dan kami naik ke tuktuknya. Kata Mr. Safy, hujan tidak akan reda. Sepanjang perjalanan kami menuju hotel dan dari hotel menuju terminal Olympic, hujan semakin deras. Setelah menurunkan kami, Mr. Safy meminjam tiket bus saya untuk memastikan bahwa memang benar kami harus menunggu di sini. Katanya benar, ini tempatnya. Bahkan sebelum balik, dengan kondisi basah kuyup dan kehujanan, Mr. Safy sempat- sempatnya berterima kasih sambil menyodorkan kartu namanya. Pelayanan yang sangat baik menurut saya ^^

Sekadar informasi, tempat ini bukan terminal bus dan semacamnya, melainkan di lantai satu sebuah bangunan yang kami kira akan difungsikan menjadi sebuah hotel. Di kompleksnya sendiri ada sebuah hotel yang masih buka. Di tempat tunggu itu sudah ada rombongan yang akan berangkat dengan bus pukul 20.30.

Amazing Siem Reap : Angkor Wat, Angkor Thom, and Ta Phrom

Angkor Wat menjadi tujuan utama kami datang ke Siem Reap. Dan akhirnya kesampaian juga kemari sejak namanya hanya pernah didengar dari guru IPS dan fotonya hanya bisa dilihat dari buku sejarah, itupun tidak berwarna alias hitam putih.

Untuk bisa sampai di Angkor Wat, ada beberapa opsi. Tur yang paling mudah, tinggal pesan dan bayar lalu berangkat. Bisa juga dengan menyewa tuktuk. Kami memilih opsi kedua, yaitu dengan menyewa tuktuk. Pesannya waktu masih di Medan. Kebetulan waktu browsing, ketemu rekomendasi dan contact number abangnya, jadi langsung dihubungi saja via WA. Dan nggak mengecewakan. Service-nya bagus. Mr. Safy bisa dihubungi di +855 81918918. Kalau datangnya grup, pesan van juga bisa. Waktu itu kami hanya berdua jadi pesannya tuktuk saja, $20 untuk satu hari.

Angkor’s Night Life Begin : Pub Street and Night Market

Selalu ramai di Pub Street
Mengunjungi Siem Reap tidak lengkap rasanya kalau belum ikut meramaikan suasana malam di Pub Street. Suara pengunjung menyatu dengan musik yang diputar di setiap café dan bar yang terdapat di sepanjang jalan. Bir  lokal di sini – dibandingkan dengan bir di indonesia – sangatlah murah. Dengan US$1 kamu sudah bisa mendapatkan dua kaleng bir saudara- saudara. Iya, dua kaleng. Jadi satu kalengnya hanya setengah dollar.

Footprint Café – Siem Reap

Footprint Cafe
Bagi pencinta buku seperti saya, menemukan café bernuansa perpustakaan atau buku menjadi nilai plus bagi café tersebut. Salah satunya adalah Footprint Café di Siem Reap. Ketemu café ini sewaktu saya masih browsing- browsing soal Siem Reap. Saya pun mencari tahu lokasinya terlebih dahulu dari petanya mbah Google. Tidak terlalu jauh dari hotel. Ayuk aja ya kan.

Rak buku di depan cafe

288 Boutique Villa - Siem Reap

Siem Reap menawarkan sejumlah akomodasi bagi para pengunjungnya. Dimulai dari hostel hingga hotel berbintang, semua tersedia. Untuk saya dengan budget ngepas namun pengin privasi lebih alias kamar masing- masing, pilihan saya jatuh ke 288 Boutique Villa.


Warna putih mendominasi.
FYI, warna hotel tetangga juga hampir sama.
Saya (yang ceroboh) hampir salah masuk ;p
Pertimbangan utamanya adalah fasilitas antar-jemput dari dan ke bandara yang sudah tersedia dalam paket saat saya memesan hotel. Harganya beda tipis dengan harga kamar tanpa fasilitas jemputan bandara. Dengan demikian, masalah transportasi sekeluarnya dari bandara terselesaikan. Walaupun sebenarnya saya nggak berharap banyak karena takut juga kan nggak dijemput. Namun tuktuk pesanan hotelnya oke. Pas saya dan Papa sudah keluar, kami tinggal mencari driver yang memegang selembar kertas bertuliskan nama saya. Yeeii ^^
Welcome Drink and Snack : Jasmine Tea & Keripik Pisang
Sesampainya kami di hotel, kami diberi welcome drink dan snack. Segar yah sehabis panas- panasan dari luar. Proses check in nya juga nggak lama walau nggak bisa dibilang cepat juga. Setelah kunci tersedia, kami diantarkan ke kamar oleh stafnya yang ramah (saya lupa tanya namanya siapa).

Ngapain Dulu Setelah Tiba di Siem Reap?

menuju arrival hall Siem Reap International Airport.
Hati- hati saat mengambil gambar dari area landasan.
Siem Reap awalnya tidak masuk ke dalam itinerary liburan saya. Hanya Ho Chi Minh dan Hanoi. Baru saat Papa saya mengusulkan liburan ke Kamboja juga, saya menyisipkan agenda ke Siem Reap. Setelah menyusun rencana penerbangan – yang berganti- ganti antara ke Vietnam duluan atau ke Siem Reap – diputuskanlah kami liburan ke Siem Reap duluan. Yeii, nggak sabar pengin ke Angkor Wat dan sekitarnya.

Hari yang ditunggu- tunggu tiba. Pada hari terakhir di bulan September, kami bertolak ke Siem Reap menumpang si merah. Transitnya pilih di Kuala Lumpur saja biar irit. He he. Rencananya setelah mendarat mau jajan di Jaya Grocer dulu, tapi karena antrean imigrasinya panjang banget, ditambah flight kami molor setengah jam-an, jadilah kami balik lagi ke dalam.

Setelah penerbangan dan transit yang lumayan memakan waktu, kami tiba di Siem Reap International Airport. Lalu apa yang harus dilakukan setelah tiba?
Arrival hall. Bayon sudah menyambut dari kejauhan :)
Di sebelah kiri gerbang kedatangan, sebelum konter imigrasi, ada petugas yang menyediakan formulir kedatangan dan keberangkatan. Bagi pengunjung yang diwajibkan mengurus visa, bisa diurus di konter sebelah kanan gerbang kedatangan terlebih dahulu. Pengunjung dengan paspor negara ASEAN bebas visa, jadi tinggal mengisi Arrival/Departure Card. Formulirnya didapat dari petugas yang berjaga di sebelah kiri gerbang kedatangan. Formulirnya terdiri dari sisi kiri dan kanan. Kolom- kolomnya hampir sama. Diisi saja keduanya. Baru setelah itu antre lagi untuk cap paspor. Bagian departure-nya itu akan dikembalikan dan distaples di paspor kita.

Ini dia form yang wajib diisi biar kita nggak bolak balik konter imigrasi ^^
Waktu masuk ke arrival hall-nya, saya dan Papa tidak tahu kalau kami harus mengisi Arrival/Departure Card. Pantas saja semua orang sibuk menulis. Saya kira itu untuk mengurus VOA. Ternyata saat giliran saya, petugas imigrasi meminta formulir itu. Baru deh tahu kalau semua pengunjung wajib mengisi Arrival/Departure Card.

Ready to go XD

Paspor telah dicap, tuktuk driver sudah menunggu, petualangan kami siap dimulai. Nantikan di postingan selanjutnya ya  J

‘Mencicipi’ Sisa- Sisa Kolonialisme di Cafe Batavia

Tanpa persiapan apa- apa, kami – saya dan dua teman saya – langsung meluncur ke Kota Tua setelah mengisi perut di salah satu kedai pizza di Slipi Jaya. Baju belum sempat diganti dan ransel masih teronggok manis di kamar kos. Ayuk saja, kalau diajak ke Kota Tua nggak bakalan menolak. He he.

Sesampainya di sana, Museum BI sudah tutup. Karena sudah sore jam tiga lewat juga. Kami lanjut ke Lapangan Fatahillah. Suasana lapangan cukup ramai dan teman saya mengusulkan untuk mencoba nongkrong di Cafe Batavia. Kebetulan saya juga belum pernah ke sana tiap kali ke Kota Tua.


Cafe Batavia merupakan bangunan yang dulunya digunakan oleh VOC sebagai kantor administratif mereka. Perjalanan panjang kemudian membawa bangunan ini akhirnya dirombak menjadi kafe setelah berubah fungsi dari kantor administratif menjadi galeri seni sebelumnya.
suasana lantai dasarnya

Bandung Lautan.....

Silakan titik- titik di atas diisi sendiri ya. Kalau saya lebih senang isiannya asmara, jadinya Bandung Lautan Asmara *ngarep*

Memang suasananya mendukung banget. Siang harinya mengunjungi Kawah Putih dengan yang memesona, ditambah dengan udara sejuk, dan suasana kota yang membangun mood jadi mellow- mellow gimana gitu *lebay, abaikan saja*

Libur Lebaran Ke Mana Nih?

Libur Lebaran tahun ini cukup panjang. Mulai dari 23 Juni hingga 29 Juni 2017. Untuk saya yang kampungnya di Medan, maka saya memilih mudik ke kampung orang alias liburan. Pertanyaannya mau jalan- jalan ke mana? Secara musim liburan pasti ramai di mana- mana. 

Setelah mencari sana- sini, akhirnya pilihan jatuh ke Jakarta. Berangkatnya bareng teman kuliah dulu. Jakarta, I’m coming (again) ^^

Enaknya, jalanan lancar dan bebas macet. Yang nggak enaknya, tempat wisata pada penuh dan banyak toko yang tutup. Bayangin deh antreannya pada mengular dimana- mana. Nah, kalau jalanan kota bebas macet, suasana jalan di kawasan wisata pada padat.

Selain Jakarta, kami juga singgah ke Bandung. Naik kereta api yang tiketnya sudah dipesan dari Medan. Aplikasi- aplikasi traveling sangat membantu. Semuanya terjadwal dengan baik. Yeeii ^^
Untuk postingannya, saya buat terpisah menurut tempat wisata yang kami kunjungi. Enjoy!

Sudah mejeng :


Area Jakarta menyusul ye ^^ 

GC’s pick : Airy Cidadap Bukit Indah 9 Bandung

Sebagai salah satu kota wisata di Indonesia, Bandung menyediakan akomodasi bagi para pengunjungnya.  Urusan menginap, tinggal pilih sesuai ukuran kantong. He he. Sebagai kaum backpacker, hotel berbintang belum jadi pilihan kami saat itu. Kami mencoba mencari penginapan melalui aplikasi Airy Rooms.

area receptionist

parkiran luas


Bandung Selatan : Kawah Putih dan Sekitarnya

Pada liburan ke Bandung kali ini, kami memutuskan untuk mengunjungi Kawah Putih, salah satu lokasi wisata yang terkenal di Bandung Selatan. Beruntung sekali iparnya teman saya ikut, jadi dapat tebengan gratis. Thanks Bang Lulu *rejeki anak saleh*

Boarding pass KA. Sistemnya self check in langsung di counter yang tersedia

Untuk mengantisipasi jalanan macet, kami menumpang kereta api ke Bandung. Tiketnya beli jauh hari. Pas dilihat, masih ada tiket kereta dan masih banyak. Asyik. Langsung pesan PP dan dapat tambahan diskon lima ribu perak lagi per orang. Lumayan. Karena perjalanannya hanya sekitar tiga jam, kami membeli tiket ekonomi. Harga tiketnya Rp 90.000,- sekali jalan, menumpang KA Argo Parahyangan. Tiket perginya beli yang paling pagi dan tiket balik ke Jakartanya beli yang jam 7 malam.
naik kereta api..tut..tut..tut..

Transportasi ke Genting yang Anti Ribet :)


Genting Highland merupakan salah satu primadona di negara Malaysia. Jika teman- teman berkunjung ke Kuala Lumpur, tidak ada salahnya singgah ke Genting dan menginap barang satu atau dua malam di sana. Kini, hadir Sky Avenue, sebuah mall yang berada tepat di sebelah First World Hotel, jalan kaki dari lobi langsung tembus ke Sky Avenue. Selain terkenal kasinonya, kuliner di Genting juga beragam sehingga para pengunjung bisa memanjakan lidah di sini. Mulai dari kuliner khas Timur hingga Barat ada di sini, dari yang ringan hingga yang mengenyangkan perut. Kalau favorit saya, churros dan hazelnut tart-nya.

SKy Avenue di Genting. 
Perjalanan ke Genting memakan waktu satu jam dari Kuala Lumpur. Akomodasi ke sana juga nggak ribet. Teman- teman bisa pilih beberapa opsi, tergantung nyamannya bagaimana. Saat saya dan Mama saya tiba di KLIA 2, ramainya bukan main. Long weekend, jadi harap maklum. Antrean cap paspor di imigrasi membludak. Belum lagi turis- turis yang main serobot dan potong. Duh. Satu jam lebih kami menunggu. Tiket bus ke Genting juga belum terbeli. >__< *curhat traveler*
Tiket dari KLIA2 menuju KL Sentral @RM 12.00
Setelah urusan cap- cap selesai, kami turun dan langsung membeli tiket bus ke KL Sentral. Harga tiketnya RM 12. Bus pun berangkat sesuai waktu yang telah ditentukan. Sayangnya, ketika sampai di KL Sentral, tiket bus ke Genting sold out. Gawat, padahal Papa saya sudah menunggu di sana. Lalu gimana dong? Tenang, banyak jalan menuju Roma Genting. Kami akhirnya bertolak ke Pudu Sentral (naik Rapid dari depan Nu Sentral) dan naik taksi dari sana karena counter Go Genting sudah tutup dengan cantiknya –  tiketnya sudah habis. Berikut ini jenis- jenis transportasi dan harganya menuju ke Genting :

Berburu Camilan di Supermarket di Kuala Lumpur

Camilan merupakan salah satu makanan yang wajib tersedia di rumah saya *sibuk bertanya kapan kurus*. Saat jalan- jalan ke Malaysia, salah satu kebiasaan kami, saya dan orang tua saya, adalah berbelanja ke supermarket setempat. Belanjaannya apa saja? Bisa berupa keperluan sehari- hari, seperti kopi instan, Milo, ataupun bumbu masak. Nah, kalau saya biasanya langsung bergerak menuju rak camilan. Tentu saja cari yang lebih murah dan nggak repot dibawa. Backpacker banget ya. Ha ha.
Tentunya nggak semua supermarket di Kuala Lumpur saya tahu. Postingan ini hanya berisi supermarket langganan saya. Jadi, kalau ada rekomendasi, boleh di-share juga yah ^^

1.     Jaya Grocer
Sumber : di sini
Supermarket yang satu ini memiliki beberapa gerai yang tersebar di Malaysia dan juga melayani pesan antar melalui website mereka di www.jayagrocer.com Bagi teman- teman yang mencari jajanan impor, di sini tempat yang cocok. Produk lokalnya ada juga kok. Selain penataannya yang rapi, harganya juga oke.
ngidam Koh-Kae tapi lagi nggak ke Thailand? Jaya aja ^^
Toko yang biasa saya datangi adalah toko yang berlokasi di KLIA2. Yap, strategis banget kan. Mudah dijangkau. Jaya Grocer terletak di Level 2. Dari arah ketibaan, jalan saja terus hingga agak ujung. Teman- teman akan melihat toko baju yang ada patung beruang gede, belok kiri  dan lurus, maka teman- teman akan melihat Jaya Grocer.
Sebagai tambahan informasi, di sebelah Jaya Grocer juga terdapat toko yang menjual kartu telepon setempat. Harganya juga oke di sana (setelah saya tanya ke beberapa counter).

Futuristic Putrajaya

Liburan singkat memang paling seru kalau ada tempat baru yang bisa dikunjungi. Bagi masyarakat kota Medan, Malaysia menjadi salah satu destinasi wisata yang menjadi salah satu pilihan saat liburan tiba. Dengan jarak tempuh yang dekat, yaitu kurang lebih satu jam, Malaysia menjadi tujuan liburan singkat saya pada kali ini.

Saya termasuk traveler yang senang meng-explore hal- hal dan tempat- tempat baru. Karena selama ini hanya mendengar tentang Putrajaya dan saya belum pernah ke sini sebelumnya, maka kali ini saya akan main ke sana.
Foto dari PICC
Putrajaya merupakan pusat administrasi Malaysia (Wikipedia). Hampir semua sektor kementerian dapat kita jumpai di sini. Belakangan ini, banyak turis yang berkunjung ke Putrajaya, begitu kata driver yang membawa kami berkeliling. Selain bangunan dan gedung bergaya futuristis, Putrajaya juga memanjakan pengunjung dengan aneka kuliner yang menggoda yang bisa teman- teman temukan di Dataran Putra.

Transportasi

Teman- teman bisa memilih dua moda transportasi yang tersedia untuk berkunjung ke Putrajaya. Jika teman- teman lebih suka yang cepat, teman- teman bisa memilih KLIA Transit dengan ongkos yang lebih mahal (kisaran RM9.50-RM10). Waktu tempuhnya juga lebih cepat, yaitu sekitar 15-20 menit.
Bus ini yang kami tumpangi menuju Putrajaya
yang ini duluan berangkat. Full busnya.

Aku dan Buku Untuk Indonesia


Salah satu hal yang saya tunggu saat tahun ajaran baru tiba – selain suasana baru – adalah buku baru. Di sekolah saya dulu, murid- murid yang membayar uang buku bacaan akan mendapatkan buku bacaan di hari pertama sekolah. Saya bukan salah satu di antara mereka. Ketika teman sebangku saya mendapatkan bukunya, saya meminjam kemudian mencatat judulnya untuk kemudian dibeli di luar. Agak repot, tapi lebih hemat. Selain itu, ada keseruan tersendiri saat hunting buku.

Saya bersyukur karena setiap tahun ajaran baru masih berkesempatan untuk memakai buku baru. Saya selalu menyukai aroma buku baru. Setelah tahun ajaran berakhir, bukunya disimpan untuk kemudian dipakai oleh adik saya. Dan beberapa juga ada yang dipakai oleh sepupu saya jika buku pada tahun ajaran berikutnya masih tidak diganti dan masih dalam kurikulum yang sama. Buku yang paling saya sukai waktu itu adalah buku Bahasa Indonesia karena banyak cerita di dalamnya.

Seiring berjalannya waktu, saya menemukan hobi baru, yaitu membaca novel. Sayangnya uang jajan yang waktu itu pas- pasan membuat saya tidak bisa membeli novel. Salah satu alternatifnya adalah meminjam dari kawan. Atau kalau tidak, menumpang baca di toko buku yang ada di mal dan menabung dulu lalu dibelikan novel saat ada diskonan.

Setelah tamat SMA, saya mulai kuliah sambil bekerja. Rasanya senang sekali karena sudah memiliki penghasilan sendiri. Hobi membaca saya mulai tersalurkan. Saya bisa membeli novel- novel kesukaan saya dan mulai mengoleksi novel hingga sekarang.

Sejak melihat deretan novel yang tertata rapi di rak, saya jadi ingin kepikiran untuk membuka perpustakaan. Hanya saja, impian untuk memiliki perpustakaan masih belum kesampaian. Semoga suatu hari nanti bisa ya ^^ Nah, saat mendengar program dari BCA yang bertemakan #BukuUntukIndonesia, saya sangat bersemangat. Kegiatan ini merupakan program dari Bakti BCA yang mengumpulkan paket buku dari masyarakat Indonesia untuk kemudian dibagikan kepada teman- teman kita yang membutuhkan. Paket buku dimulai dari Rp 100.000,- hingga Rp 350.000,-. Teman- teman yang berminat bisa berbagi melalui bukuuntukindonesia.bca.co.id (yang akan di-link ke blibli.com) ataupun datang langsung ke BCA cabang terdekat.


Seperti yang kita ketahui, Indonesia memiliki tingkat literasi yang rendah. Budaya membaca belum tertanam pada anak- anak Indonesia. Padahal dengan membaca, kita bisa memperoleh ilmu dan informasi yang luas sehingga bisa lebih mengenal dunia. Oleh karena itu, mari kita dorong dan bantu anak Indonesia untuk menjadi lebih baik dengan saling berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Bersama kita ciptakan generasi muda yang lebih baik. Because sharing is caring and together we can create a better generation Y