gelembungcerita

Sebuah Jurnal

Amazing Siem Reap : Angkor Wat, Angkor Thom, and Ta Phrom

Angkor Wat menjadi tujuan utama kami datang ke Siem Reap. Dan akhirnya kesampaian juga kemari sejak namanya hanya pernah didengar dari guru IPS dan fotonya hanya bisa dilihat dari buku sejarah, itupun tidak berwarna alias hitam putih.

Untuk bisa sampai di Angkor Wat, ada beberapa opsi. Tur yang paling mudah, tinggal pesan dan bayar lalu berangkat. Bisa juga dengan menyewa tuktuk. Kami memilih opsi kedua, yaitu dengan menyewa tuktuk. Pesannya waktu masih di Medan. Kebetulan waktu browsing, ketemu rekomendasi dan contact number abangnya, jadi langsung dihubungi saja via WA. Dan nggak mengecewakan. Service-nya bagus. Mr. Safy bisa dihubungi di +855 81918918. Kalau datangnya grup, pesan van juga bisa. Waktu itu kami hanya berdua jadi pesannya tuktuk saja, $20 untuk satu hari.

Angkor’s Night Life Begin : Pub Street and Night Market

Selalu ramai di Pub Street
Mengunjungi Siem Reap tidak lengkap rasanya kalau belum ikut meramaikan suasana malam di Pub Street. Suara pengunjung menyatu dengan musik yang diputar di setiap café dan bar yang terdapat di sepanjang jalan. Bir  lokal di sini – dibandingkan dengan bir di indonesia – sangatlah murah. Dengan US$1 kamu sudah bisa mendapatkan dua kaleng bir saudara- saudara. Iya, dua kaleng. Jadi satu kalengnya hanya setengah dollar.

Footprint Café – Siem Reap

Footprint Cafe
Bagi pencinta buku seperti saya, menemukan café bernuansa perpustakaan atau buku menjadi nilai plus bagi café tersebut. Salah satunya adalah Footprint Café di Siem Reap. Ketemu café ini sewaktu saya masih browsing- browsing soal Siem Reap. Saya pun mencari tahu lokasinya terlebih dahulu dari petanya mbah Google. Tidak terlalu jauh dari hotel. Ayuk aja ya kan.

Rak buku di depan cafe

288 Boutique Villa - Siem Reap

Siem Reap menawarkan sejumlah akomodasi bagi para pengunjungnya. Dimulai dari hostel hingga hotel berbintang, semua tersedia. Untuk saya dengan budget ngepas namun pengin privasi lebih alias kamar masing- masing, pilihan saya jatuh ke 288 Boutique Villa.


Warna putih mendominasi.
FYI, warna hotel tetangga juga hampir sama.
Saya (yang ceroboh) hampir salah masuk ;p
Pertimbangan utamanya adalah fasilitas antar-jemput dari dan ke bandara yang sudah tersedia dalam paket saat saya memesan hotel. Harganya beda tipis dengan harga kamar tanpa fasilitas jemputan bandara. Dengan demikian, masalah transportasi sekeluarnya dari bandara terselesaikan. Walaupun sebenarnya saya nggak berharap banyak karena takut juga kan nggak dijemput. Namun tuktuk pesanan hotelnya oke. Pas saya dan Papa sudah keluar, kami tinggal mencari driver yang memegang selembar kertas bertuliskan nama saya. Yeeii ^^
Welcome Drink and Snack : Jasmine Tea & Keripik Pisang
Sesampainya kami di hotel, kami diberi welcome drink dan snack. Segar yah sehabis panas- panasan dari luar. Proses check in nya juga nggak lama walau nggak bisa dibilang cepat juga. Setelah kunci tersedia, kami diantarkan ke kamar oleh stafnya yang ramah (saya lupa tanya namanya siapa).

Ngapain Dulu Setelah Tiba di Siem Reap?

menuju arrival hall Siem Reap International Airport.
Hati- hati saat mengambil gambar dari area landasan.
Siem Reap awalnya tidak masuk ke dalam itinerary liburan saya. Hanya Ho Chi Minh dan Hanoi. Baru saat Papa saya mengusulkan liburan ke Kamboja juga, saya menyisipkan agenda ke Siem Reap. Setelah menyusun rencana penerbangan – yang berganti- ganti antara ke Vietnam duluan atau ke Siem Reap – diputuskanlah kami liburan ke Siem Reap duluan. Yeii, nggak sabar pengin ke Angkor Wat dan sekitarnya.

Hari yang ditunggu- tunggu tiba. Pada hari terakhir di bulan September, kami bertolak ke Siem Reap menumpang si merah. Transitnya pilih di Kuala Lumpur saja biar irit. He he. Rencananya setelah mendarat mau jajan di Jaya Grocer dulu, tapi karena antrean imigrasinya panjang banget, ditambah flight kami molor setengah jam-an, jadilah kami balik lagi ke dalam.

Setelah penerbangan dan transit yang lumayan memakan waktu, kami tiba di Siem Reap International Airport. Lalu apa yang harus dilakukan setelah tiba?
Arrival hall. Bayon sudah menyambut dari kejauhan :)
Di sebelah kiri gerbang kedatangan, sebelum konter imigrasi, ada petugas yang menyediakan formulir kedatangan dan keberangkatan. Bagi pengunjung yang diwajibkan mengurus visa, bisa diurus di konter sebelah kanan gerbang kedatangan terlebih dahulu. Pengunjung dengan paspor negara ASEAN bebas visa, jadi tinggal mengisi Arrival/Departure Card. Formulirnya didapat dari petugas yang berjaga di sebelah kiri gerbang kedatangan. Formulirnya terdiri dari sisi kiri dan kanan. Kolom- kolomnya hampir sama. Diisi saja keduanya. Baru setelah itu antre lagi untuk cap paspor. Bagian departure-nya itu akan dikembalikan dan distaples di paspor kita.

Ini dia form yang wajib diisi biar kita nggak bolak balik konter imigrasi ^^
Waktu masuk ke arrival hall-nya, saya dan Papa tidak tahu kalau kami harus mengisi Arrival/Departure Card. Pantas saja semua orang sibuk menulis. Saya kira itu untuk mengurus VOA. Ternyata saat giliran saya, petugas imigrasi meminta formulir itu. Baru deh tahu kalau semua pengunjung wajib mengisi Arrival/Departure Card.

Ready to go XD

Paspor telah dicap, tuktuk driver sudah menunggu, petualangan kami siap dimulai. Nantikan di postingan selanjutnya ya  J

‘Mencicipi’ Sisa- Sisa Kolonialisme di Cafe Batavia

Tanpa persiapan apa- apa, kami – saya dan dua teman saya – langsung meluncur ke Kota Tua setelah mengisi perut di salah satu kedai pizza di Slipi Jaya. Baju belum sempat diganti dan ransel masih teronggok manis di kamar kos. Ayuk saja, kalau diajak ke Kota Tua nggak bakalan menolak. He he.

Sesampainya di sana, Museum BI sudah tutup. Karena sudah sore jam tiga lewat juga. Kami lanjut ke Lapangan Fatahillah. Suasana lapangan cukup ramai dan teman saya mengusulkan untuk mencoba nongkrong di Cafe Batavia. Kebetulan saya juga belum pernah ke sana tiap kali ke Kota Tua.


Cafe Batavia merupakan bangunan yang dulunya digunakan oleh VOC sebagai kantor administratif mereka. Perjalanan panjang kemudian membawa bangunan ini akhirnya dirombak menjadi kafe setelah berubah fungsi dari kantor administratif menjadi galeri seni sebelumnya.
suasana lantai dasarnya

Bandung Lautan.....

Silakan titik- titik di atas diisi sendiri ya. Kalau saya lebih senang isiannya asmara, jadinya Bandung Lautan Asmara *ngarep*

Memang suasananya mendukung banget. Siang harinya mengunjungi Kawah Putih dengan yang memesona, ditambah dengan udara sejuk, dan suasana kota yang membangun mood jadi mellow- mellow gimana gitu *lebay, abaikan saja*