gelembungcerita

Sebuah Jurnal

Revie K-Drama : Mr. Sunshine

sumber gambar di sini

Review K-Drama : Mr. Sunshine

Judul : Mr. Sunshine

Jumlah episode : 24

Pemeran : Lee Byung Hun, Kim Tae Ri, Yoo Yeon Seok, Kim Min Jung, Byun Yo Han.

Ceritanya :
Eugene Choi (Lee Byung Hun), seorang marinir Amerika Serikat yang ditugaskan untuk berdinas ke Joseon. Ingatannya lantas membawanya mengenang kembali masa- masa pahitnya sewaktu kecil. Choi Yoo Jin adalah anak dari budak yang akan dijual oleh seorang tuan tanah yang kaya dan ayahnya tengah dihukum di keramaian. Ibunya berusaha menyelamatkan Yoo Jin dan meminta Yoo Jin untuk kabur. Yoo Jin kecil begitu terpukul karena setelahnya, ibunya bunuh diri dengan terjun ke sumur yang dalam.

Eugene Choi
sumber gambar di sini
Teringat usaha keras ibunya, ia pun kabur dan berhasil menyelamatkan diri berkat seorang perajin keramik yang menyerahkannya pada Joseph, seorang misionaris asal Amerika Serikat yang melayani di Joseon pada saat itu. Awalnya Joseph menolak tapi membantu Yoo Jin juga untuk berangkat ke Amerika Serikat dengan menyelundupkannya di peti barang.

Joseph juga yang memberi nama Eugene pada anak yang ia tolong itu. Ia telah menjadi sosok seorang ayah di mata Eugene. Eugene bertahan di Amerika Serikat dan tumbuh menjadi pria terpandang, seorang marinir berkebangsaan Amerika Serikat.

Eugene sangat tidak menyukai Joseon karena Joseon tidak pernah menerimanya. Siapa sangka ia bertemu dengan Go Ae Shin (Kim Tae Ri), seorang gadis bangsawan yang tergabung dalam Pasukan Kebenaran, sebuah kelompok yang terdiri dari anggota- anggota bela negara yang mencari dan mengungkap kebenaran yang selama ini tertutupi. Eugene dan Ae Shin mulai saling jatuh cinta padahal awalnya niat Eugene adalah membalas dendamnya kepada Kim Hee Sung (Byun Yo Han), cucu dari tuan tanah yang dulu menghancurkan keluarganya.

[COBA YANG BARU] Rafting di Sei Bah Bolon



Rafting, yuk!”
“Tapi aku ngga bisa renang.”
“Ngga harus bisa renang, kan pakai pelampung, jadi tenang aja.”
. . .
Berawal dari ajakan dan saya diyakinkan bahwa saya akan baik- baik saja bermain air (di sungai) walaupun saya tidak bisa berenang, saya daftar juga untuk ikut mengarungi jeram di Sei Bah Bolon. Operatornya pakai Ancol Arung Jeram. Katanya sih aman untuk pemula, bahkan peserta yang tidak bisa berenang seperti saya juga bisa ikutan.

2D at Sunway Geo

Nak pesan apa?

Pertama kali tahu 2D dari IG dan kelihatannya unik juga tempatnya. Langsung googling dan masuk daftar yang dikunjungi kalau main ke KL. Walaupun agak jauh, di daerah Sunway, tapi ngga apa- apa ya, sekalian jalan- jalan dan saya sendiri juga belum pernah ke Sunway Geo.

Travelogue Guesthouse Bukit Bintang – Kuala Lumpur



Baru sadar kalau ada hostel di area super strategis di Bukit Bintang dan terjangkau pula harganya. Saya direkomendasikan oleh teman kantor yang saat itu barengan nonton konser Yiruma di Genting. Karena mereka naik pesawat satu malam sebelumnya, mereka memutuskan untuk menginap di Travelogue ini dan saya akhirnya berkesempatan mencoba juga pada akhir Juni lalu.

Travelogue terletak di kawasan segitiga emasnya Kuala Lumpur, yaitu Bukit Bintang. Di sebelah Starbucks Bukit Bintang, sebuah tangga kecil menyempil. Saya sempat ragu saat melihat foto- foto di internet dan OTA. Di kawasan seperti ini dan dengan harga yang sangat ramah di kantong, mana mungkin bisa dapat hostel sebersih itu, pikir saya. Ternyata hostel ini benar- benar seperti yang tampak pada foto- foto yang diunggah.

Another Transit : Merchant’s Lane Kuala Lumpur


Menunggu bisa jadi mengasyikkan kalau ada kegiatan yang bisa dilakukan. Entah itu menulis, nonton, ataupun ngopi. Sembari menunggu anggota keluarga saya yang lain dari Singapura (berhubung tiket pesawat saat itu sedang mahal- mahalnya, saya memilih naik bus karena beda penerbangan sejak awal trip), saya berencana ngopi. Jemari ini pun dengan lincah mengetikkan ‘best coffee shop in Kuala Lumpur’. Ada banyak pilihan di area Bangsar, yang mana nggak terlalu jauh dari KL Sentral. Namun Merchant’s Lane di area pecinan ini tampaknya lebih menggoda.

Saya menumpang Rapid dan turun di Pasar Seni. Sekadar informasi, kini pembayaran di Rapid menggunakan kartu Touch’n Go. Saya ditolak naik ke dalam bus karena masih pakai uang tunai. Segeralah saya membeli kartunya di Nu Sentral. Member card Watson juga bisa digunakan sebagai alat pembayaran karena ada Touch’n Go-nya. Tinggal top up saja.

Red Planet Hotel Pattaya

Red Planet (sebelumnya Tune Hotel)

Kami memesan kamar hotel ini pada menit terakhir. Saat itu baru selesai nonton pementasan Alcazar dan sambil menunggu teman- teman yang sedang ke toilet, saya melihat- lihat sekeliling dan gedung Red Planet terpampang di hadapan saya. Lalu terpikir oleh saya untuk mengungkapkan perasaan tak enak saya saat berada di hotel sebelumnya kepada teman- teman saya. Dan saya tidak sendirian. Mereka juga merasakan hal yang sama. Maka saya pun membuka aplikasi Traveloka dan dapatnya di harga 340ribuan per kamar.

[Warna] Songthaew- Songthaew di Pattaya


Songthaew merupakan transportasi yang ada di Pattaya. Modifikasi dari mobil pick up.

Mungkin akan lebih tepat judulnya kalau Abang- Abang Songthaew di Pattaya ataupun Driver Songthaew di Pattaya. Tapi biarlah saja tetap begitu judulnya. Biarlah cerita- cerita tentang songthaew ini menjadi salah satu kenangan yang tetap memotivasi kita untuk yakin bahwa masih ada kebaikan di belahan bumi manapun itu.

Sebelum berangkat ke Bangkok, saya mengatakan kepada teman- teman saya bahwa di Pattaya ada moda transportasi berupa songthaew yang lebih murah dari Grab. Hanya saja untuk perkiraan budget, kami hitung dengan aplikasi Grab secara kami tidak menyewa mobil karena beberapa jasa penyewaan mobil dipaket dari Bangkok, tidak ketemu yang hanya di Pattaya saja. Pahit- pahit ya karena Grab di sini memang mahal dan rutenya jauh- jauh, ucap saya waktu itu.

Ternyata kami cukup beruntung karena selama perjalanan di Pattaya hanya sekali kami memesan Grab. Selebihnya naik songthaew. Dari sinilah cerita- cerita songthaew bergulir.