gelembungcerita

Sebuah Jurnal

Langkawi SkyBridge – The Longest Free Span and Curved Bridge in The World

Skybridge dan SkyDome yang terlihat kecil
Serunya naik SkyCab: bisa lihat view laut yang biru~~

Salah satu tempat yang wajib dikunjungi kalau main ke Langkawi adalah SkyBridge-nya yang tersohor itu.  Cuacanya cerah sekali sehingga kami bisa menikmati keindahan permata Kedah ini dengan sempurna. Suasana cukup ramai namun tidak mengantre panjang. Satu- satunya antrean yang panjang hanyalah antrean SkyGlide karena hanya ada satu unit.

Untuk sampai ke Skybridge, teman- teman wajib menumpang SkyCab. Harga tiketnya RM55.00 per orang, sudah termasuk SkyCab PP, SkyDome, SkyRex (yang kami lewatkan karena kurang tertarik dengan dinosaurus), dan 3D Art Museum Langkawi.

Setiap SkyCab berhenti, teman-  teman bisa turun dulu untuk menikmati pemandangan alam di SkyDome. Setelah puas, bisa menunggu SkyCab selanjutnya.

Sepotong Senja di Kuah

Maskot Langkawi

Saat mengetahui bahwa cuti di-approved, saya mulai googling tempat mana lagi yang bisa dikunjungi kalau sedang berada di Penang. Langkawi menjadi pilihan. Saat itu pas lagi ada promo dari si merah, per orangnya hanya RM19.00 sekali jalan. Tanya ke Mama dan beliau oke- oke saja mau jalan ke Penang. Cus..! Klik klik bayar…

Hari yang ditunggu- tunggu pun tiba. Kami naik pesawat ke Langkawi. Durasinya hanya 35 menit karena Langkawi dekat sekali dengan Penang. Alternatif utama adalah dengan naik feri, namun lebih mahal. Waktu saya cek, sekitaran RM75.00 per orang. Jadinya kami naik pesawat saja karena murah banyak.

Kami naik pesawat sore dan setibanya di rumah sewaan (awalnya kami mengira hanya disewakan kamarnya saja, ternyata satu rumah itu hanya saya dan Mama penghuninya), kami meletakkan koper, mandi, lalu memesan Grab menuju Dataran Lang.

Cangkir- Cangkir Flat White di Pilastro Sudirman



Kopi kini tidak hanya sekadar dinikmati para pencintanya namun juga telah bertransformasi menjadi bagian dari gaya hidup. Selalu ada kafein di siang hari ataupun di sela- sela pekerjaan yang menumpuk di kantor. Atau nongkrong di kedai kopi yang kini semakin modern. Aktivitas di balik mesin espresso semakin padat.

Saya adalah tipe yang suka duduk di kedai kopi. Entah itu ngopi ataupun menyulam cerita dengan kibor dan tab mini saya. Awal kenalan dengan kedai kopi ini saat dilanda kegalauan proposal tesis yang tengah direvisi. Waktu itu teman saya mengajak berdiskusi di Pilastro Sudirman.

Transportasi Selama di Penang

Sebagai salah satu kota dengan situs warisan budaya yang kental, Penang sudah dibekali dengan sistem transportasi yang memadai. Untuk pergi ke tempat- tempat yang baik itu touristy ataupun keliling kota, tersedia transportasi umum berupa bus nyaman dan ber-AC.

Untuk busnya sendiri ada dua tipe, satu Rapid (berbayar) dan satu lagi CAT (tidak berbayar alias free). Haltenya sendiri berada di satu area walau berbeda blok. Kalau saya sendiri lebih sering naik Rapid karena tempat tujuannya itu dilalui oleh Rapid.

Kadang kala, saat mengejar waktu, kami pesan Grab. Atau saat sedang ada promo untuk jarak dekat dan lebih hemat, kami juga pesan Grab. Jadi selama di Penang, fleksibel saja ya teman- teman.

Postingan ini nggak berisi tentang semua rute Rapid se-Penang ataupun kode promo Grab. He he. Gelembung hanya mau share yang kami coba waktu itu.

Hotel Kimberley Georgetown



Sampai juga di coba- coba hotel di Penang yang terakhir. Kimberley Hotel merupakan hotel ketiga yang kami coba sebelum balik ke Medan. Lokasinya ada di Jalan Sungai Ujong, berdekatan dengan Apollo Inn. Sengaja sebelum pulang pilih hotel di area Komtar biar nggak rempong pas mau ke bandara naik Rapid.

Travelodge Hotel Georgetown


Memilih penginapan terkadang menjadi salah satu kegiatan yang memakan waktu. Maunya kamarnya oke, lokasi strategis, banyak direkomendasikan orang, dan kalau bisa jangan kemahalan. Nah ini yang susah dicari. Banyak maunya. Ha ha.

Di Penang sendiri ada beberapa hotel di daeah Macalister yang cukup strategis – jika tujuan ke Penangnya bukan untuk keperluan medis. Salah satu yang kami coba adalah Travelodge Hotel. Bagi teman- teman yang sering ke Penang namun kurang familier, Travelodge ini sebelumnya bernama Glow Hotel.

The Habitat Penang Hill


Penang Hill selalu masuk dalam daftar yang harus dikunjungi bagi sebagian turis. Menikmati keindahan kota Penang dari ketinggian, menaiki Kereta Bukit Bendera yang selalu di-upgrade sesuai kebutuhan dan perkembangan zaman ini, menjadi daya tarik tersendiri. Namun kami punya rencana lain setelah tiba di Bukit Bendera: The Habitat.

Area masuk
The Habitat termasuk spot baru yang ada di Bukit Bendera. Tiket masuk bisa dibeli langsung ataupun melalui aplikasi. Harga tiketnya sendiri ada dua jenis, tergantung jam masuknya. Untuk jam masuk sebelum jam enam sore (Standard Walk), pengunjung dikenakan tari RM50. Waktu itu kami beli dari Traveloka dapetnya di 120ribu-an. Jauh lebih murah dan tiketnya bisa digunakan langsung. FYI, setiap beli tiket dari aplikasi, pastikan untuk selalu cek ketentuan penggunaan tiket ya, karena setiap tiket yang berbeda tempatnya memiliki ketentuan yang berbeda. Ada yang tiketnya harus dicetak ataupun harus menunggu 1x24jam dulu baru bisa dipakai.