gelembungcerita

Sebuah Jurnal

Tai Hoe Hotel yang Dekat dengan Stasiun MRT Farrer Park


Sebagai traveller yang mengandalkan transportasi umum saat hendak kemana- mana, menginap di hotel yang dekat dengan halte bus ataupun stasiun MRT merupakan pilihan yang bijak – menurut saya. Hampir menginap di hostel, tapi karena pertimbangan ini dan itu, maka kami akhirnya mereservasi hotel yang berlokasi di daerah Farrer Park. Namanya Tai Hoe Hotel.

Seperti deskripsinya di aplikasi pemesanan hotel, Tai Hoe cocok untuk kami yang kemana- mana naik MRT. Dengan rate di bawah sejuta per malam untuk ukuran SG, kami pesan saja. Harga per malamnya 800ribuan weekday. Pas pesan sedang ada promo yang bisa digunakan, langsung deh nggak mikir lagi, dapetnya jadi di 600ribuan.

Tai Hoe Hotel
Untuk mencapai Tai Hoe, teman- teman tinggal naik MRT dan turun di Stasiun Farrer Park, ambil Exit H yang pintu keluarnya di City Square Mall. Jalan mengikuti arah mall dan tinggal nyebrang maka teman- teman akan melihat Tai Hoe yang letaknya persis di perempatan lampu merah. Strategis? Iya banget secara saya ini tukang nyasar, dengan lokasi yang mudah dilihat membuat saya tidak perlu mutar- mutar.

First Time SG’s Prep!

Singapore Flyer

Tahun ini senang sekali karena banyak jatah liburan yang bisa digunakan tanpa harus memotong cuti. Jatah cutinya jadi bisa digunakan unttuk keperluan kuliah. Walaupun bukan liburan yang panjang banget, tapi cukup lah untuk menenangkan diri dan eksplorasi tempat- tempat baru. Salah satunya pas hari libur kemerdekaan lalu yang jatuh di hari Jumat. Langsung deh packing dan jalan.

Mainnya nggak jauh- jauh, ke Singapura saja. Berdua dengan adik saya dan ini adalah kali pertama kami ke Singapura. Banyak teman- teman saya yang bilang ke saya kalau saya kurang normal karena umumnya setiap traveller pastilah harus sudah pernah mengunjungi negara singa terlebih dahulu sebelum jalan ke negeri lain. Bye lah bagi kalian yang punya opini seperti itu. Tidak salah, namun saya bukan tipe traveller yang menganut paham seperti itu. Bagi saya, liburan merupakan hobi sekaligus kesempatan dan yah..jodoh- jodohan. Kalau memang belum waktunya ke sana, ya berarti kita dikasih kesempatan buat eksplorasi tempat lain dulu. *maap curcol*

Cari Hotel yang Dekat dengan Bandara Hang Nadim di Batam? Sky Inn Express Hotel Aja


Jaga- jaga saat traveling pada musim liburan itu perlu ya. Baik jaga kantong ataupun jaga jadwal perjalanan. Saya biasa mengantisipasi macet atau antre di bandara lama dengan berangkat lebih awal. Kali ini saya dan keluarga saya mencoba untuk memesan hotel yang dekat dengan bandara, tujuannya agar kalau macet pun, nggak lama- lama kali sampainya.


Saya pun mereservasi sebuah kamar di Sky Inn Express Hotel. Kami bertiga dan boleh- boleh saja masuk ke dalam satu kamar asal nggak komplain kalau kesempitan. He he. Request double bed biar gampang. Lokasi hotelnya sendiri dekat ya dengan bandara.

morning view dari balik jendela kamar
Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari detektif gugel, di Batam ada Trans Batamnya juga loh. Tapi untuk cari aman, kami menggunakan jasa antar jemput dari hotel, biayanya Rp 50.000,- sekali jalan.  Perjalanan ke hotel tidak memakan waktu lama, tujuh menitan sampai. Kami memesan kamar dengan double bed. Dapatnya di Rp 330.000,- per malam sudah termasuk sarapan untuk dua orang, belum termasuk ongkos jemput dari bandara.

Bintan yang Bikin Susah Move On



Belum sah ke Bintan kalau belum main ke Trikora. Trikora merupakan kawasan yang terkenal akan pantainya. Tidak hanya pantai, banyak resort dibangun di kawasan ini. Mobil kami melaju, menembus hujan yang tidak konsisten, sebentar- sebentar turun, sebentar- sebentar reda. Memasuki kawasan Trikora, teman- teman akan banyak menemukan penjual ota- ota. Pulang nanti kita coba ya.

Rencananya kami akan menikmati pizza yang dibuat langsung oleh warga Italia yang menetap di Bintan, Pizza Casa Italia. Pizza ini merupakan salah satu kuliner tekenal di Bintan. Turut menemani air kelapa yang segar sembari mendengar suara deburan ombak. Sungguh menyenangkan.

Sayangnya rencana tinggal rencana. Kedai pizzanya tutup. Sedih sekali. Namun niat kami untuk main di pantai tidaklah surut. Dalam bayangan saya, Trikora adalah pantai dengan airnya yang jernih dan bebatuan- bebatuan besar. Dan ya, memang seperti itu. Tapi tempatnya ramai. Maka kami mengungsi ke pantai yang lebih sepi.

Hampir tidak ada pengunjung, saudara- saudara. Benar- benar seperti pantai pribadi lah pokoknya. Mau duduk di pondok sambil ngobrol santai, mau main pasir, berenang, bebas dah. Dan airnya biruuuuuuuuu sejauh mata memandang. Wagelasehhh…!

Rumah kelong (rumah para nelayan menangkap ikan) tampak kecil dari jauh
Ditambah dengan cuaca yang - syukurnya - sudah mendukung. Sayangnya saya nggak bisa berenang #lah. Nanti kalau kelelep, rempong ya. Jadi mainnya masih batas aman  saja sambil duduk- dudukkan di pasir.


Nggak berasa waktu cepat sekali berlalu di sini. Setelah mengambil beberapa foto, santai, ngobrol ha ha hi hi, kami pun pulang. Sesuai janji, ini dia dokumentasi ota- otanya. Awalnya ragu mau coba. Tapi sekali coba, nagih dan minta nambah. Dan harganya sangat terjangkau, Rp 1.000,- per satu ota- ota.

After Meal : Vihara Ksitigarbha Bodhisattva TanjungPinang


Perut kenyang terisi nasi ayam, hati pun tenang melanjutkan perjalanan. Sebelum menyepi di Trikora, kami  singgah ke Vihara Ksitigarbha Bodhisattva yang terkenal juga dengan nama Vihara 1000 Patung. Vihara yang dibangun di atas bukit ini menjadi salah satu objek wisata yang banyak dikunjungi oleh wistawan.




Untuk memasuki kawasan vihara tidak dikenakan biaya, hanya sumbangan sukarela. Di sepanjang jalan menuju ke spot 1000 patung, pengunjung bisa membaca sejarah Sidharta Gautama dalam ukiran yang ada di tembok pembatas.

Edisi Libur Lebaran : Tanjungpinang, I'm in Love!

Seperti biasa, tugas utama sebelum libur tiba adalah merencanakan mau jalan kemana. Dari beberapa destinasi yang masuk daftar (setelah yang lain saya coret karena muahaalnya tiket pas liburan), saya memutuskan untuk jalan- jalan ke Bintan.

Bintan? Di mana itu?

Laman Boenda yang menghadap ke laut

Bintan itu satu kepulauan dengan Batam. Sama- sama merupakan bagian dari Kepulauan Riau. Hanya beda pulau dengan Batam. Ibukotanya terletak di Tanjungpinang. Tiket ke PP ke Batam sudah ada. Karena saya tidak bisa menyetir dan sedang tidak ingin menyewa mobil, private trip tampaknya menjadi pilihan yang pas.

Carinya pakai hashtag di IG waktu itu dan ketemulah @babalovetrip. Awalnya saya agak ragu sih karena foto- foto yang ada di galeri si baba itu kok banyakan foto prewed ya. Tapi ya dicoba saja. Palingan kalau nggak oke, nggak bakal saya rekomendasikan, pikir saya waktu itu. Ternyata oke dan B&B-nya juga nyaman.  Review lengkapnya bisa dibaca di sini.

Explore Bintan with Babalovetrip and Stay at Babahouse Super Homey B&B



Awal rencana jalan ke Bintan itu berdua Mama. Secara kami berdua nggak bisa nyetir, saya memutuskan untuk menggunakan jasa guide selama di Bintan. Kali ini private trip dong ya. Nggak jadi berdua, jadinya bertiga sama adik saya juga ikut. Cari kali cari, ketemulah akun Instagram si Baba di @babalovetrip.

Salah satu pojok di Babahouse
Percaya gitu saja? Enggak juga tapi dalam hati berkata, coba aja. Kalau nggak dicoba nggak tahu kan. Melihat beberapa foto yang di-tag ke mereka, sepertinya aman. Kami juga nggak menaruh ekspektasi tinggi, apalagi waktu komunikasi sama Baba, kok sepertinya santai banget ya (belakangan saya baru tahu ternyata penduduk Tanjungpinang ya begitu, he he..)