gelembungcerita

Sebuah Jurnal

#JadiBisa Tetap Dekat dengan Yang Terkasih dengan Fasilitas Pilih Kursi di Traveloka

Selain bebas macet, traveling dengan menumpang kereta api sangat menyenangkan. Berangkat ke stasiun dan menunggu kereta api sambil menikmati jajanan yang ada di stasiun diiringi suara kereta api yang khas memberikan rasa tersendiri. Para penumpang berlalu lalang menjinjing bawaan mereka. Ada yang pulang kampung, berangkat kerja, ataupun sekadar jalan- jalan seperti saya dan teman- teman.

Saya bersyukur kini traveling tidak lagi seribet dulu. Berbagai informasi mengenai destinasi wisata sangat mudah kita temukan dengan berseluncur di dunia maya. Termasuk juga dalam urusan akomodasi, tinggal pilih, pesan, dan bayar, maka tiket sudah berada dalam genggaman. Bahkan pembayaran untuk pemesanan tiket ataupun hotel tanpa kartu kredit juga sudah bisa. Ini menjadi kemudahan ekstra bagi saya yang tidak memakai kartu kredit.

Hanoi Old Centre Hotel – Hoan Kiem, Hanoi

Setelah dua malam menginap di daerah Old Quarter, kami pindah hotel. Pesannya di daerah Hoan Kiem biar dekat kalau mau jalan kaki ke danau. Pilihan jatuh pada Hanoi Old Centre Hotel. Dan benar, hotel ini memang sangat dekat dengan Hoan Kiem Lake. Kamarnya juga yang paling oke di antara semua hotel yang pernah saya review dalam trip Indocina kali ini.

Reception 


Hanoi Old Centre Hotel terletak di Hang Hanh Street. Lagi- lagi, malam sebelumnya pas nyari makan, ke TKP dulu biar nggak muter- muter sama ransel lagi. Ha ha. Nggak jauh dari Hanoi Buddy. Pagi setelah sarapan dan check out dari Hanoi Buddy, saya dan Papa langsung jalan ke hotel ini.

[1/7] New7Wonders of Nature : Ha Long Bay, Vietnam

HA LONG BAY

Ha Long Bay
Ha Long Bay menjadi magnet bagi para wisatawan yang berkunjung ke Vietnam, khususnya Hanoi. Ha Long Bay terletak di bagian utara Vietnam. Menurut legenda, saat Vietnam diserang, Ibu naga dan putranya diutus turun ke Vietnam untuk melindungi penduduk- penduduk di sana. Naga- naga tersebut melawan penyerang dan membentuk benteng pertahanan dengan mengeluarkan batu zamrud yang kini menjulang kokoh sebagai pulau- pulau batu kapur di Ha Long Bay. Terdapat kurang lebih 1.600 pulau batu kapur di teluk ini.

Kissing Chicken
Warga sangat menghormati dan menghargai naga. Oleh karena itu teluk ini dinamakan Ha Long Bay, yang berarti Teluk Naga. Ha Long Bay masuk ke dalam satu dari tujuh keajaiban dunia kategori alam. Perjalanan dari Hanoi ke Ha Long memakan waktu kurang lebih empat jam berkendara. Saya dan Papa bergabung dalam sebuah kelompok tur. Jangan lewatkan berkunjung ke Ha Long Bay walau hanya untuk tur sehari seperti kami.

Hanoi Buddy Inn & Travel - Old Quarter, Hanoi

Buddy Cafe
Terletak di Hang Bo Street di kawasan Old Quarter, lokasi Hanoi Buddy Inn & Travel cukup strategis. Sesampainya di hotel, staf Hanoi Buddy yang ramah segera memproses check in kamar. Tidak lama karena waktu saya dan Papa tiba juga sudah malam. Selesai proses check in, kami langsung diantarkan ke kamar. 

Jreng….jreeeengg….sama seperti di Marie-Line Hotel di Ho Chi Minh, Hanoi Buddy tidak memiliki lift dan kamar kami berada di lantai tiga. Perjuangan lagi ya. He he.
Kamarnya nyaman (selain noda pada langit- langit) dan kamar mandinya bersih, showernya juga oke. Hairdryer ada. Ruangannya juga lumayan – lebih luas daripada yang sebelumnya kami tempati.

Selain penginapan, Hanoi Buddy juga menyediakan paket tur. Ada ruang makan di bagian belakang lantai dasar dan coffee shop di bagian depan hotel. Saya berencana untuk coba egg coffee yang terkenal itu, tapi hingga check out nggak juga kesampean cobanya *entah ini lupa atau efek mepet trus jadi lupa -_- harap dimaklumi pemirsah*


Hotel Reception

[Curhat Traveller] Hanoi: Awal Perjumpaan

Duduk di dingklik, salah satu yang khas dari Vietnam
Jarak dan waktu tempuh melalui jalur darat yang cukup memakan waktu membuat kami memilih perjalanan udara ke Hanoi. Dan di sinilah kami. Mendarat dengan baik di Noi Bai International Airport. Saat keluar dari arrival hall, kami mencari bus menuju Long Bien, halte bus dekat Old Quarter. Rencana mau naik bus no.86 tapi nggak kelihatan. Kami juga sempat ditawari untuk naik van, per orangnya VND 100.000 langsung diantarkan sampai ke depan hotel.

Terakhir, bus yang mangkal itu bus no.17 dan memang menuju Long Bien sebagai perhentian terakhirnya. Kami pun naik. Harga pastinya lupa berapa (biasa saya foto, tapi mungkin saking semangatnya plus sudah gelap jadi kelupaan). Yang pasti harganya jauh lebih murah ketimbang naik van. Bus terus melaju dan berhenti sebentar- sebentar untuk mengangkut dan menurunkan penumpang. Jalanan gelap yang dilalui juga membuat saya terheran- heran, apakah benar kondisi ibukota memang seperti ini.

Bus 109 to Tan Son Nhat Airport

Berangkat ke bandara kadang memang bikin dilema ya. Mau naik carteran mobil dari hotel, nggak murah walaupun nggak mahal untuk ukuran berdua. Mau naik transportasi umum ya takut ribet. Serba salah memang. Hanya saja kalau nggak berani mencoba, kita nggak bakalan tahu dan akhirnya selalu memilih alternatif yang aman di waktu tapi nggak aman di kantong. Ha ha.

Saya sempat share sedikit mengenai bus dari Pham Ngu Lao ke Tan Son Nhat Airport pada postingan sebelumnya. Kali ini mau share lebih detail. Ke bandara dengan nyaman naik bus No. 109 berwarna kuning yang dioperasikan oleh SATSCO, salah satu perusahaan jasa yang melayani transportasi dari dan ke bandara, penyewaan mobil, jasa pengurusan dokumen terkait penerbangan, dan sebagainya.

VND 20.000/orang
Rental mobil dari SATSCO

Bus 36 ke Saigon Central Post Office dan Sekitarnya

Katanya di Pham Ngu Lao ada terminal bus tapi semalaman jalan kaki nggak kelihatan. Barulah setelah diberitahu oleh staf hotel, ketemu terminalnya. Pagi itu kami ke terminal dulu, untuk cari tahu besoknya naik bus nomor berapa ke bandara. Untuk ke bandara, teman- teman bisa menumpang bus no. 109. Busnya berwarna kuning, free WiFi di dalam bus dan rutenya langsung ke bandara.
Masing- masing bus sudah ada tempat menunggunya. 1 nomor bus 1 peron
Oke, setelah tahu jadwal bus dan nomornya, saatnya jalan- jalan. Ke mana? Ke kantor pos yang legendaris itu dulu. Pas saya bilang post office, kernet busnya sempat bingung pertanda nggak mengerti. Lalu, saya tunjukkan gambar kantor pos barulah dia menyuruh kami naik. Bus nyaman itu bernomor 36 dan harganya hanya VND 6.000 kalau dikurs ke Rupiah sekitaran Rp 3.900,-



Bus tidak turun tepat di depan kantor pos, kami harus berjalan sedikit lagi. Waktu itu, kartu SIM saya sedang bermasalah sehingga tidak bisa internetan. Beruntung di tengah kota, ada Wi-Fi gratis. Keren banget ya, hampir di setiap titik – setidaknya yang menjadi tempat wisata favorit turis – pasti ada Wi-Fi.
After Rain