Sebuah Jurnal

Transportasi Selama Tiga Hari di Singapura


Singapura terkenal akan keteraturannya. Tidak hanya warganya, tetapi transportasinya juga lho. Jalan- jalan ke sini tidak perlu khawatir pakai transportasi umum. Selama tiga hari di sini, saya dan adik saya naik MRT dan bus, keduanya bergantian dan tergantung kebutuhan.

MRT


Awal kami tiba, dari Changi Airport menuju hotel, kami naik MRT dulu. Sebelum datang, sudah download petanya di ponsel, jaga- jaga takut koneksi internet terputus. Bagi teman- teman yang tidak mengunduh peta MRT Singapura, bisa juga langsung meluncur ke https://mrt.sg/fare untuk mengetahui jalur stasiun mana yang harus dilewati dan berapa tarifnya.

Day 2 @ SG :Tiong Bahru dan Gardens by The Bay

Salah satu mural di Tiong Bahru

Pagi kedua di Singapura disibukkan dengan acara pindah hotel ke area Lavender. Lokasi hotel kami, Hotel Snow Lavender, terletak di kawasan yang tenang kalau tidak mau dikatakan sepi. Dari bagian lobinya tampak oke dan uncle-nya ramah. Sayangnya kamarnya ngepas banget, ya sesuailah dengan harga yang dibayar. He he.

Jalan kaki ke stasiun MRT cukup jauh. Kalau mau berpergian naik bus, jalan barang 1 menit sudah ada haltenya. Sekalian mencoba naik bus, di hari kedua kami banyak berkeliling naik bus. Naik bus cocok banget untuk kami yang mau mengemat energi dengan tidak banyak jalan di dalam stasiun MRT. *mental pemalas. Jangan ditiru*

Tiong Bahru Market di daerah Tiong Bahru
Setelah meletakkan ransel di lobi hotel, kami harus mengisi perut. Dengar dengar kawasan Tiong Bahru punya beraneka ragam kuliner yang bisa memanjakan lidah dan perut kami. Jadi disinilah kami. Benar saja, di area makan Tiong Bahru Market di lantai dua, kami dibuat bingung karena banyak sekali food stall dan karena saya lagi males keliling dan sedang dalam mode: asal perut ini kenyang, maka saya pesan duck noodle dekat tempat saya duduk. Percobaan Milo pertama saya juga disini. Agak kurang ya rasanya, mungkin karena warga negara ini menerapkan konsep less sugar. Baiklah, bisa dipahami.

Singapore Rainforest Lumina



Dalam rangka merayakan ulang tahun Singapore Zoo yang ke-45 di tahun ini, dengan bangga Singapore Zoo menghadirkan Rainforest Lumina, sebuah perpaduan antara  teknologi dan visualisasi liarnya malam di area kebun binatang. Para tamu akan berjalan di dalam gelapnya hutan hujan tropis ditemani oleh musik dan satwa virtual serta aneka lampu yang terpasang di sepanjang track.

Ready to explore?
Rute yang akan dilewati
Jangan khawatir akan gelapnya malam, di dalam Lumina ini tidak terdapat hewan betulan. Semuanya virtual, itu juga terdapat hanya di bagian tertentu. Karena rasa penasaran akan tempat yang baru dibuka ini, saya pun memesan tiket sebelum berangkat ke Singapura. Ada beberapa media yang bisa digunakan untuk memesan tiket masuk Rainforest Lumina ini. Teman- teman bisa memesan via web mereka di rainforestlumina.wrs.com.sg seharga $22 dan bakal dapat potongan hingga 10% untuk metode pembayaran tertentu.

Selain melalui website mereka, teman- teman bisa memesan via Klook, sebuah aplikasi yang menyediakan berbagai kebutuhan liburan kamu. Harganya sama, $22, kadang kalau lagi ada promo, teman- teman bisa dapat lebih murah.

Tai Hoe Hotel yang Dekat dengan Stasiun MRT Farrer Park


Sebagai traveller yang mengandalkan transportasi umum saat hendak kemana- mana, menginap di hotel yang dekat dengan halte bus ataupun stasiun MRT merupakan pilihan yang bijak – menurut saya. Hampir menginap di hostel, tapi karena pertimbangan ini dan itu, maka kami akhirnya mereservasi hotel yang berlokasi di daerah Farrer Park. Namanya Tai Hoe Hotel.

Seperti deskripsinya di aplikasi pemesanan hotel, Tai Hoe cocok untuk kami yang kemana- mana naik MRT. Dengan rate di bawah sejuta per malam untuk ukuran SG, kami pesan saja. Harga per malamnya 800ribuan weekday. Pas pesan sedang ada promo yang bisa digunakan, langsung deh nggak mikir lagi, dapetnya jadi di 600ribuan.

Tai Hoe Hotel
Untuk mencapai Tai Hoe, teman- teman tinggal naik MRT dan turun di Stasiun Farrer Park, ambil Exit H yang pintu keluarnya di City Square Mall. Jalan mengikuti arah mall dan tinggal nyebrang maka teman- teman akan melihat Tai Hoe yang letaknya persis di perempatan lampu merah. Strategis? Iya banget secara saya ini tukang nyasar, dengan lokasi yang mudah dilihat membuat saya tidak perlu mutar- mutar.

First Time SG’s Prep!

Singapore Flyer

Tahun ini senang sekali karena banyak jatah liburan yang bisa digunakan tanpa harus memotong cuti. Jatah cutinya jadi bisa digunakan unttuk keperluan kuliah. Walaupun bukan liburan yang panjang banget, tapi cukup lah untuk menenangkan diri dan eksplorasi tempat- tempat baru. Salah satunya pas hari libur kemerdekaan lalu yang jatuh di hari Jumat. Langsung deh packing dan jalan.

Mainnya nggak jauh- jauh, ke Singapura saja. Berdua dengan adik saya dan ini adalah kali pertama kami ke Singapura. Banyak teman- teman saya yang bilang ke saya kalau saya kurang normal karena umumnya setiap traveller pastilah harus sudah pernah mengunjungi negara singa terlebih dahulu sebelum jalan ke negeri lain. Bye lah bagi kalian yang punya opini seperti itu. Tidak salah, namun saya bukan tipe traveller yang menganut paham seperti itu. Bagi saya, liburan merupakan hobi sekaligus kesempatan dan yah..jodoh- jodohan. Kalau memang belum waktunya ke sana, ya berarti kita dikasih kesempatan buat eksplorasi tempat lain dulu. *maap curcol*

Cari Hotel yang Dekat dengan Bandara Hang Nadim di Batam? Sky Inn Express Hotel Aja


Jaga- jaga saat traveling pada musim liburan itu perlu ya. Baik jaga kantong ataupun jaga jadwal perjalanan. Saya biasa mengantisipasi macet atau antre di bandara lama dengan berangkat lebih awal. Kali ini saya dan keluarga saya mencoba untuk memesan hotel yang dekat dengan bandara, tujuannya agar kalau macet pun, nggak lama- lama kali sampainya.


Saya pun mereservasi sebuah kamar di Sky Inn Express Hotel. Kami bertiga dan boleh- boleh saja masuk ke dalam satu kamar asal nggak komplain kalau kesempitan. He he. Request double bed biar gampang. Lokasi hotelnya sendiri dekat ya dengan bandara.

morning view dari balik jendela kamar
Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari detektif gugel, di Batam ada Trans Batamnya juga loh. Tapi untuk cari aman, kami menggunakan jasa antar jemput dari hotel, biayanya Rp 50.000,- sekali jalan.  Perjalanan ke hotel tidak memakan waktu lama, tujuh menitan sampai. Kami memesan kamar dengan double bed. Dapatnya di Rp 330.000,- per malam sudah termasuk sarapan untuk dua orang, belum termasuk ongkos jemput dari bandara.

Bintan yang Bikin Susah Move On



Belum sah ke Bintan kalau belum main ke Trikora. Trikora merupakan kawasan yang terkenal akan pantainya. Tidak hanya pantai, banyak resort dibangun di kawasan ini. Mobil kami melaju, menembus hujan yang tidak konsisten, sebentar- sebentar turun, sebentar- sebentar reda. Memasuki kawasan Trikora, teman- teman akan banyak menemukan penjual ota- ota. Pulang nanti kita coba ya.

Rencananya kami akan menikmati pizza yang dibuat langsung oleh warga Italia yang menetap di Bintan, Pizza Casa Italia. Pizza ini merupakan salah satu kuliner tekenal di Bintan. Turut menemani air kelapa yang segar sembari mendengar suara deburan ombak. Sungguh menyenangkan.

Sayangnya rencana tinggal rencana. Kedai pizzanya tutup. Sedih sekali. Namun niat kami untuk main di pantai tidaklah surut. Dalam bayangan saya, Trikora adalah pantai dengan airnya yang jernih dan bebatuan- bebatuan besar. Dan ya, memang seperti itu. Tapi tempatnya ramai. Maka kami mengungsi ke pantai yang lebih sepi.

Hampir tidak ada pengunjung, saudara- saudara. Benar- benar seperti pantai pribadi lah pokoknya. Mau duduk di pondok sambil ngobrol santai, mau main pasir, berenang, bebas dah. Dan airnya biruuuuuuuuu sejauh mata memandang. Wagelasehhh…!

Rumah kelong (rumah para nelayan menangkap ikan) tampak kecil dari jauh
Ditambah dengan cuaca yang - syukurnya - sudah mendukung. Sayangnya saya nggak bisa berenang #lah. Nanti kalau kelelep, rempong ya. Jadi mainnya masih batas aman  saja sambil duduk- dudukkan di pasir.


Nggak berasa waktu cepat sekali berlalu di sini. Setelah mengambil beberapa foto, santai, ngobrol ha ha hi hi, kami pun pulang. Sesuai janji, ini dia dokumentasi ota- otanya. Awalnya ragu mau coba. Tapi sekali coba, nagih dan minta nambah. Dan harganya sangat terjangkau, Rp 1.000,- per satu ota- ota.

After Meal : Vihara Ksitigarbha Bodhisattva TanjungPinang


Perut kenyang terisi nasi ayam, hati pun tenang melanjutkan perjalanan. Sebelum menyepi di Trikora, kami  singgah ke Vihara Ksitigarbha Bodhisattva yang terkenal juga dengan nama Vihara 1000 Patung. Vihara yang dibangun di atas bukit ini menjadi salah satu objek wisata yang banyak dikunjungi oleh wistawan.




Untuk memasuki kawasan vihara tidak dikenakan biaya, hanya sumbangan sukarela. Di sepanjang jalan menuju ke spot 1000 patung, pengunjung bisa membaca sejarah Sidharta Gautama dalam ukiran yang ada di tembok pembatas.

Edisi Libur Lebaran : Tanjungpinang, I'm in Love!

Seperti biasa, tugas utama sebelum libur tiba adalah merencanakan mau jalan kemana. Dari beberapa destinasi yang masuk daftar (setelah yang lain saya coret karena muahaalnya tiket pas liburan), saya memutuskan untuk jalan- jalan ke Bintan.

Bintan? Di mana itu?

Laman Boenda yang menghadap ke laut

Bintan itu satu kepulauan dengan Batam. Sama- sama merupakan bagian dari Kepulauan Riau. Hanya beda pulau dengan Batam. Ibukotanya terletak di Tanjungpinang. Tiket ke PP ke Batam sudah ada. Karena saya tidak bisa menyetir dan sedang tidak ingin menyewa mobil, private trip tampaknya menjadi pilihan yang pas.

Carinya pakai hashtag di IG waktu itu dan ketemulah @babalovetrip. Awalnya saya agak ragu sih karena foto- foto yang ada di galeri si baba itu kok banyakan foto prewed ya. Tapi ya dicoba saja. Palingan kalau nggak oke, nggak bakal saya rekomendasikan, pikir saya waktu itu. Ternyata oke dan B&B-nya juga nyaman.  Review lengkapnya bisa dibaca di sini.

Explore Bintan with Babalovetrip and Stay at Babahouse Super Homey B&B



Awal rencana jalan ke Bintan itu berdua Mama. Secara kami berdua nggak bisa nyetir, saya memutuskan untuk menggunakan jasa guide selama di Bintan. Kali ini private trip dong ya. Nggak jadi berdua, jadinya bertiga sama adik saya juga ikut. Cari kali cari, ketemulah akun Instagram si Baba di @babalovetrip.

Salah satu pojok di Babahouse
Percaya gitu saja? Enggak juga tapi dalam hati berkata, coba aja. Kalau nggak dicoba nggak tahu kan. Melihat beberapa foto yang di-tag ke mereka, sepertinya aman. Kami juga nggak menaruh ekspektasi tinggi, apalagi waktu komunikasi sama Baba, kok sepertinya santai banget ya (belakangan saya baru tahu ternyata penduduk Tanjungpinang ya begitu, he he..)

Anchor Café and Roastery di Persinggahan

dari samping cafe

Saya adalah salah satu orang yang setuju kalau nongkrong dan nulis itu paling enak ya di kedai kopi. Saat saya, adik, dan Mama transit di Batam pun, yang pertama dicari ya kedai kopi atau kafe yang menyediakan menu kopi yang cocok di lidah kami. Sebelum berangkat, saya sudah browsing dulu dan pilihan jatuh ke Anchor Café and Roastery.


Menginap di Grand Mutiara Hotel Berastagi


Berastagi biasanya menjadi salah satu alternatif liburan bagi warga Medan. Selain jarak tempuh yang tidak terlalu jauh, jalan- jalan dan menginap barang satu atau dua malam di sini juga bikin fresh. Kalau nggak macet, satu setengah jam-an bermobil dari rumah sudah bisa sampai Berastagi.
Hotel Grand Mutiara - foto diambil dari area kolam renang
Waktu itu kami berangkat dari Taman Simalem Resort dan sedang nggak macet. Sampai di Berastagi juga lempang saja. Mungkin lebih banyak warga yang keluar negeri kali ya. Satu jam lebih sudah sampai.
check in dulu, betewe itu bukan barang bawaan kami. Saya sendiri hanya bawa baju ganti yang ditaruh di kresek (jangan ditiru)
sumber sinyal wifi

Mengisi Waktu Transit : Skybox KL Tower Yuk !

View menara kembar dari Skydeck

Setelah dapat tiket KUL-MLE dari maldiveshemat, saya langsung pesan tiket pesawat ke Kuala Lumpur. Nggak pakai lama karena takut harga tiket keburu naik. Tapi ya itu, risiko pesan jauh hari, rescheduled flight. Kalau sudah begitu, penumpang bebas pilih jam pulang yang baru. Saya pilih penerbangan malam saja biar bisa main ke kota secara kami tiba dari Male jam lima subuh.

Skydeck

KLIA2 Luggage Storage: Solusi Transit Untuk Jalan- Jalan Nyaman


Sebagai backpacker  yang nggak mau rugi waktu, saya dan teman saya memanfaatkan waktu transit sebelum bertolak ke Male. Kami memilih penerbangan jam tujuh pagi. Sementara penerbangan ke Male dari Kuala Lumpur jam tujuh malam. Masih ada waktu 12 jam. Dikurang cap paspor, ngantre, dan sebagainya, masihlah 10 jam lebih.

Lokasi Luggage Storage mudah dijangkau. Posisinya di seberang Garrett, sederetan Jaya Grocer

Menginap di Arena Lodge Sky Maafushi



Arena Lodge Sky merupakan salah satu dari sekian banyak hotel dan akomodasi yang terdapat di Maafushi. Lalu mengapa kami memilih Arena Lodge Sky? Jawabannya sederhana: karena hotel ini yang disediakan oleh pihak trip dan lebih murah ketimbang Arena Beach yang langsung menghadap Bikini Beach.

Kamarnya standar namun cukup luas. Masih bisa duduk- duduk di lantai. Ada TV, lemari, juga meja dan kursi. Untuk kamar mandinya sendiri bersih. Perlengkapan mandinya lumayan lengkap, mulai dari sabun, shampo, dan lotion. Shower cap-nya yang nggak ada. Bagi yang tidak bawa hairdryer karena ransel tidak muat, tenang saja. Bisa pinjam kok di sini.

Male: Sebuah Penutup



Sisa siang kami di Maladewa dihabiskan dengan mengunjungi Male, ibukota Maladewa. Pukul dua siang kami bertolak dari Maafushi dengan speedboat dari hotel. Selamat tinggal, Maafushi. Semua tas bawaan kami, kami tinggal di hotel karena pihak hotel yang akan mengantarkannya langsung ke bandara.



Male panas juga. Entah karena sudah jemuran dua hari ini atau memang lebih panas, saya mulai cenat cenut. Tapi ditahan aja, eksplorasi hari terakhir nih! Di Male, kami berkeliling kota dengan berjalan kaki. Berjalan melewati rumah presiden, rumah dinas, dan juga Male’ Friday Mosque Complex, satu- satunya masjid yang dibangun dari karang. Sambil bertukar cerita tentunya.

Resort Visit ke Olhuveli Beach and Spa

The Four Spices di Olhuveli

Kalau biasanya cuma bisa ngelihatin foto resort mewah di media sosial, kali ini kesampean juga datang langsung. Walaupun nggak menginap, puas juga karena fasilitas- fasilitasnya bisa kita nikmati selama seharian, kecuali pijat dan spa ya. Dua itu berbayar.

Agenda di hari ketiga ini bebas. Peserta trip bisa ambil paket resort visit ataupun mau tetap di Maafushi saja juga boleh. Kami memilih untuk resort visit dong pastinya. Kapan lagi coba? Nggak kalah seru dari aktivitas lainnya, teman- teman yang datang ke Maldives wajib coba main ke salah satu resort  yang ada di sini. Kami pilihnya ke Olhuveli Beach and Spa. Biayanya dua juta rupiah sekali visit.

Kali Pertama Snorkeling dan Piknik di Sandbank

Aktivitas di hari kedua di Maldives adalah snorkeling ke dua spot dan main ke sandbank. Waktu baca di itinerary bakalan ada snorkeling, saya sudah galau duluan, secara nggak bisa berenang. Dari hasil tanya- tanya ke oom Google, katanya bisa, snorkeling tanpa harus bisa renang. Teman- teman saya juga bilang kalau snorkeling itu kan pakai pelampung, jadi sayanya nggak usah takut.


Snorkeling di Turtle Reef

Dan bener. Awalnya saya ragu pas mau turun. Sayang dong tapi, sudah sampai ke sini masak nggak turun dan coba hal baru. Akhirnya turun dan seru banget ternyata ya. Snorkelingnya ke dua spot, Biyadhoo sama Turtle Reef. Pas di spot kedua saya udah nyerah deh, turunnya bentar banget habis itu naik.

Pagi di Maafushi



Salah satu kebiasaan kalau lagi liburan di tempat baru adalah bangun otomatis. Kalau hari kerja itu dibanguninnya susah banget, beda kalau liburan. Alarm bunyi, nggak pakai snooze, langsung matikan. Bangun, cuci muka, mandi, dan siap sudah untuk jalan.

Karena masih pagi, saya dan mbak Viness memutuskan untuk jalan- jalan keliling di sekitaran hotel. Di Maafushi, teman- teman bisa menemukan banyak hotel ataupun cottage. Rata- rata hotelnya di tepi pantai dan dekat dengan dermaga.

Liburan Ke Maldives Mahal? Big No No !!



Loe liburan ke Maldives???
Begitulah pertanyaan yang terlontar setelah teman- teman kantor pada sibuk bertanya kemana saja saya sampai wajah saya gosong begitu. Dan yah, bisa ditebak, pertanyaan- pertanyaan lain seputar wah-nya liburan ke Maldives yang kelihatannya memakan budget besar itu muncul.


Jadi, mahal? Enggak. Sebelas juta masih bersisa. Caranya? Ikutan open trip dong ya. Bermula dari Mbak Lilis yang ngajakin ke Maldives, bayangan laut biru nun jauh di sana langsung muncul. Ayok aja. Setelah cuti disetujui, langsung deh ngurus pembayaran DP dan segala macem. Mbak Lis bagian cari operatornya, saya bagian kontak dan pembayaran.

Our first trip

Ini open trip pertama kami, juga kali pertama saya traveling bareng si mbak dan temannya, Mbak Viness. Kami pilihnya Maldiveshemat dan nggak salah pilih. Recommended bangett..! Harganya masih terjangkau kantong kami yang nabung dari sisa- sisa gaji yang tidak seberapa ini *drama* dan nggak makan cuti banyak karena trip dimulai dari hari Jumat dan berakhir di hari Senin. Itinerary-nya nggak padat jadi bisa lebih santai.

38 Coffee Lab, Si Minimalis dengan Sudut Monokrom



Selesai bimbingan, saatnya bikin mata melek lagi dengan hunting kopi dan juga tempat yang enak buat nongkrong. Jadilah saya ngojek ke kedai kopi yang terletak nggak terlalu jauh dari kampus ini. Dengan polos si abang bilang nggak tahu jalan dan saya yang diminta untuk buka peta, akhirnya sampai juga di kedai kopi simple ini.

Caramel Brulee Latte
Pilihan menu kopinya cukup bervariasi dan saya galau mau minum apa.  Caramel Brulee Latte menjadi pilihan saya untuk siang ini. Kopinya nikmat dengan karamel yang kriuk- kriuk (eh, bener nggak sih sebutannya kriuk- kriuk, jadi berasa kayak kerupuk). Rasanya sudah pas tanpa perlu saya tambahkan gula.
suasana lantai 1

Mitsui Outlet Park KLIA Sepang


Beberapa kali traveling ke Kuala Lumpur, ini kali pertama saya mendarat di KLIA 1, karena biasanya naik si merah itu mendaratnya selalu di KLIA2. Masih ada jeda transit hampir tiga jam sebelum balik ke Medan. Rencananya sih mau cari makan dulu karena dapat info dari adik saya bisa naik kereta bandara yang nganter kita ke food court-nya. Cuma karena saya masih asing dan di sana juga sepi banget , jadilah naik turun lift dan berakhir dengan menunggu free shuttle bus ke Mitsui Outlet Park. Nunggunya di level 1 ya, kawan.


Mitsui Outlet Park ini merupakan mall yang berada di kawasan Sepang. Jaraknya dekat dengan bandara, baik dari KLIA ataupun KLIA2. Walau nggak kuat kalau jalan kaki ke sana. He he. Toko- toko di mall ini rata- rata dari brand menengah ke atas.

Pastinya ada food court di lantai dua. Karena waktu itu kami hanya sebentar di sini, saya take away nasi ayam saya dan nggak sempat foto banyak- banyak. Yang mau ngopi ada Starbucks juga di pojokan.


Lumayan lah walau masih lebih enak jajan- jajan di Getaway KLIA2. Yang lagi di KLIA2 dan mau coba ke sini, bisa juga. Naik shuttle bus-nya saja. Selamat mencoba dan sampai jumpa di liburan selanjutnya ^^

Dokumentasi dengan Xiao Mi Redmi 4 Prime

One Night Stay @ JW Marriot Medan

Lobi hotel

Gong Xi Fa Cai bagi teman- teman yang merayakan. Hari kedua Imlek jatohnya di weekend gini, jadi nggak ngantor plus kuliah diliburkan. Yeeeii^^ Karena lagi santai, saya teringat mau ngepost tentang akomodasi yang ada di Medan, salah satunya hotel tempat saya menginap pertengahan tahun 2017. Nggak salah, pertengahan tahun lalu.


But, better late than never. Review ini bukan  hasil endorse tapi juga nggak bayar sendiri. Jadi review ini dari pengalaman saya dan tim saya selama menginap di JW Marriot Medan sewaktu ada acara kantor.

8D7N Siem Reap – Ho Chi Minh – Hanoi Budgeting

Sebagai traveller dengan banyak pertimbangan, mau yang murah tapi nggak ribet, mau yang enak tapi nggak mahal, mau waktu singkat tapi komplit, jadilah liburan tiga kota ini terbentuk dan terjalani. Pastinya plus minus karena waktunya terbatas. Tapi seru karena dapat banyak pengalaman dan moment baru.

Berikut ini saya share rangkuman biaya perjalanan saya selama delapan hari itu. Keseluruhannya itu biaya untuk satu orang. Hanya biaya transportasi, tur, dan hotel. Kenapa makanan dan suvenir enggak? Karena itu tergantung masing- masing traveller dan selera juga beda- beda kan. Jadi untuk makan, bervariasi. Bagi traveller yang nggak hobi kulineran, makan seadanya rasanya sudah cukup, ataupun makan di restoran siap saji di dekat hotel juga oke, tapi beda lagi bagi traveller yang hobi kulineran juga. Budgetnya pasti beda lagi.

Bus No 86 to Noi Bai International Airport


Pagi itu saya bangun dengan malas. Agak berat rasanya karena liburan sudah akan berakhir. Pakaian dan perlengkapan sudah kami bereskan kemarin sebelum tidur. Tinggal mandi dan melakukan proses check out.

Thank you, Hanoi Old Centre :)
Karena masih pagi dan kami sudah akan berangkat ke bandara, sarapan kami dibungkus oleh pihak hotel. Kami memilih naik bus menuju bandara dari terminal Long Bien. Teringat pertama kali turun di Long Bien dalam kondisi yang kurang bersahabat, kali ini saya memesan taksi online untuk mengantarkan kami ke Long Bien.

Ngeblog Manis di Links Café

Liburan singkat dan nggak kemana- mana memang enaknya ngeblog. Terlebih postingan trip saya yang lalu belum juga selesai- selesai, dimulai dari edit foto sampai dengan menyusun kontennya. Karena pengin mencoba suasana baru, saya mencoba membuka aplikasi promo langganan saya dan menemukan Links Café. Dilihat dari Instagramnya, lumayan oke.

Outodoor area

Saya tidak menaruh ekspektasi tinggi. Setelah selesai mengerjakan beberapa pekerjaan di rumah, saya berangkat ke Links. Kafe masih sepi saat saya tiba. Dan memang nggak mengecewakan. Didominasi oleh warna pastel membuat mata nyaman memandang. Apalagi dekorasinya juga oke, jadi langsung klik sama kafe yang satu ini.

Interior Links
Tempat ngetik favorit

Saya mengambil tempat di bawah tangga yang cute menurut saya dan duduk di sana selama beberapa jam ke depan. Kopinya juga lumayan. Saya pesan Caramel Machiato, walaupun karamel yang digunakan itu salted caramel, jadi ada rasa asinnya.