Sebuah Jurnal

Kafka Coffee | Obrolan Sore Menuju Penerimaan


 

Subuh masih belum berakhir saat saya, Papa, dan Mama berangkat menuju bandara. Pukul setengah lima kami dijemput. Puji Tuhan penerbangan tidak delay walaupun tidak terlepas dari drama kecil yang penyebabnya dari kami sendiri. Sebuah pembelajaran baru. Sudah saya catat agar tidak lupa di perjalanan selanjutnya.


Taksi online membelah jalanan Penang – yang untungnya lagi – tidak macet. Setelah tiba di rumah sakit, kami memulai proses pemeriksaan Mama. Kali ini menunggu agak lama karena ada aktivitas CT Scan lutut Mama. Setelah menghabiskan siang di rumah sakit, pemeriksaan pun selesai. Dan hasilnya kurang menggembirakan. Angka infeksi meningkat dan spacer di lutut sudah mulai retak. Artinya, operasi kian dekat.

 


Mama tentunya jadi kurang bersemangat. Babak baru akan segera dimulai. Sore itu, setelah kami menyelesaikan makan siang kami yang telat di balkon hotel, saya mengajak Mama untuk menyesap kopi di sekitar hotel. “Kalau tidak sanggup jalan, kita stop ya, Ma,” pesan saya waktu itu karena Mama tidak mau duduk kursi roda. Dan kami pun tiba di Kafka yang berlokasi sejauh 270 meter berjalan kaki dari hotel.

 

Kafka yang tersembunyi

kalau sendiri ke sini, boleh nih spot yang di ujung sana

siap-siap mageran deh kalau duduk di sini, pewe banget

another dine in spot

Kedai kopi itu penuh walau jam makan siang sudah lewat. Kebanyakan warga lokal. Riuh obrolan terdengar namun kami masih bisa berbincang tanpa harus mengeraskan suara. Saya suka kedai kopi ini. Suasananya hangat. Bukan tipe desain mewah. Tipe saya sekali. Saya pun memesan secangkir kopi hitam dan sepotong tar cokelat pisang.

 

dipilih yuk!

Sambil menunggu, saya dan Mama berbincang terkait rencana penanganan lutut Mama selanjutnya. Kami saling menguatkan dan menerima kondisi ini. Dari awal memang sudah coba untuk menerima, namun setiap hasil tes dan kondisi yang belum membaik ini menjadi faktor penyebab kami selalu cemas dan overthinking.

 

Maaf ya, isi postingan ini seharusnya share tentang kedai kopi ini he he. Lanjut. Di area display kue, lumayan banyak pilihan. Bahkan cheesecake juga ada yang rasa cempedak. Namun pilihan saya jatuh pada kue tar cokelat pisang yang direkomendasikan oleh staff. Seandainya ramai kami yang datang, saya pasti cicip beberapa.

 

Kopi dan sliced cake RM 29.45

Ternyata kue tar ini lezat walau penampilannya hanya dibalut cokelat polos. Krimnya tidak berat dan manisnya pas, datang dari pisang. Kopi hitam saya pun tidak kalah nikmat. Pekat dan begitu membuai. Cocok sekali dinikmati Bersama tar yang saya pesan. Kami melanjutkan obrolan ke topik yang lebih ringan. Ternyata kopi dan kudapan yang pas bisa jadi penolongnya. Sore itu berakhir manis 😊

 

kalau sudah sampai di sini, tinggal masuk ke dalam saja

Kafka ada di belakang bangunan ini, ambil kiri lalu ke kanan ya


Kedai kopi ini tidak terletak di pinggiran jalan besar. Agak tersembunyi. Bisalah saya sebut hidden gem di Penang ya walau kedai kopi ini sudah cukup banyak peminatnya. Kalau teman- teman tertarik untuk berkunjung, patokannya ada di bangunan Penang Flying Clubs, 15 Kelawei. Jika sudah sampai di sini, masuk saja dan belok ke arah kiri kemudian ke kanan. Maka kita akan tiba di Kafka Coffee.

 


Menariknya kini mereka buka lebih awal dengan jam operasional:

Senin hingga Kamis: 07:00 – 06:00 (last orders 17:00)

Jumat hingga Minggu: 07:00 – 21:30 (last orders 20:45)

 

Selamat berpetualang rasa!
Be First to Post Comment !
Post a Comment